Total Tayangan Halaman

Minggu, 12 Juli 2015

Jodoh Tak Jadi

sebuah cerpen yang sederhana terlahir karena ada tugas yang mengharuskan saya menulis sebuah karangan yang paling mengangetkan, ah....ternyata saya bisa juga buat cerpen



 *******
Can I have your daughter for the rest of my life...
Say yes say yes cause I need to know
You say I never get your blessing till the day I’d died
Tough luck my friend cause the answer is no

Alunan lembut lagu grup band kesayanganku Magic ‘Rude’mengalir dalam pikiranku tiba-tiba saja seolah tidak ada lainnya. Siang hari yang panas bersama tiga temanku lainnya mengisi sepetak kamar di lantai lima sebuah asrama.
Aku hanya duduk di meja kecil berhadap jendela, melipat kedua tangan di atas meja ditemani laptop kesayanganku dan entah bagaimana aku malah terbawa pada masa itu.
Setahun yang lalu.
*******
            Namaku vonna nabilah, hanya seorang guru di sekolah homeschooling. Seorang gadis biasa yang mempunyai cita-cita biasa, menjadi seseorang yang bisa membahagiakan orang tuaku dengan menjadi seorang guru.
            Aku ceria, semangat dan jomblo. Setidaknya itu pendapat teman-temanku.
            Well, tidak mudah untuk menjadi seorang guru yang di akui di negeri ini. Semuanya mempunyai tahap. Aku tidak begitu ingin ambil pusing Ketika teman-teman seangkatanku di kampus berlomba-lomba menikah, aku masih sendirian dan tekun dengan pekerjaanku sebagai guru di Homschooling dan guru private. Hari-harinya dipenuhi dengan jadwal mengajar yang padat. Senin hingga Sabtu mengajar dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore kemudian dilanjutkan dengan mengajar private dari jam 7 hingga jam 10 malam. Minggu aku masih juga sibuk dengan kegiatan tambahan yaitu kegiatan ngumpul-ngumpul dengan teman-teman organisasi Pecinta Alam.           
            Malam itu ketika Aku pulang ngajar tiba-tiba ibuku memanggilku untuk berbincang. Raut wajahnya seakan berbicara bahwa ada hal penting yang akan disampaikannya. “kenapa mak? Kok kayaknya penting kali sih?” tanyaku kepada ibu yang kupanggil ‘mamak’.
“Vonna kenal fadhli kan?”
Dengan heran kujawab “ Ya kenal lah mak, itu kan aBang ganteng yang di belakang mesjid itu kan? He...” sambil cengar-cengir kujawab pertanyaan ibuku.
Tanpa panjang lebar ibuku pun menjelaskan bahwa fadhli datang ke rumah untuk meminangku kepada ayah dan ibuku.
“Apa?” aku cukup terkejut, “Gak salah dengar Vonna mak? ABang itu ngapain?” bagaikan orang tuli aku berbicara dengan nada tinggi pada ibuku.
Ini hampir tidak mungkin. Dadaku seakan mau meledak.
“Mamak juga kaget tiba-tiba dia dan ngomong mau minang kamu” lanjut beliau menjelaskan “Dia bilang mau lamar kamu. Dia udah lama perhatiin kamu. Kalau ayah setuju dia mau bawa orang tuanya untuk minang kamu secepatnya” ia melihatku sejenak kemudian menghela nafasnya “Mamak sih senang-senang aja karena memang sudah waktunya kamu menikah. Mamak sudah kepingin momong cucu”
“Trus ayah bilang apa mak?”
“Ayahmu bilang, ayah belum bisa kasih jawaban sekarang karena ayah menyerahkan keputusan di tangan Vonna. Jadi kayakmana? Coba kamu fikir dulu matang-matang. Kalau mamak lihat dia anak yang baik, rajin shalat, kerjaannya sudah ada, rajin lagi. Mamak dan ayah sih terserah kamu saja”.
 Hening.
Aku tak tahu harus bilang apa. Ini sebuah kejutan yang luar biasa. Di satu sisi aku memang mau menikah dan disisi lain aku baru saja mendapat kabar dari temanku bahwa aku lulus seleksi program Sarjana Mendidik di Daerah terdepan, Terluar, dan tertinggal (SM3T). Program pemerintah yang bertujuan mencerdaskan Indonesia dengan menempatkan para sarjana muda untuk mengajar di daerah plosok Indonesia selama setahun. Program ini adalah keinginanku yang belum kukatakan pada kedua orang tuaku. Aku ingin sekali ikut program ini karena aku dapat menambah wawasanku yang lebih dari sekarang. Pernah sekali aku memberitahu bahwa aku ikut tesnya tapi orang tuaku belum tahu kalau aku lulus. “ Vonna bingung mak. Vonna lulus seleksi tahap pertama program SM3T yang pernah vonna bilang ke mamak. Tapi sejujurnya Vonna juga ingin segera menikah dan punya anak seperti yang mamak inginkan.”
“Kalau begitu coba istikharah saja! Mamak akan merestui apapun yang kamu inginkan.”
Tak lama kemudian ayah pulang dan memberitahukan hal yang sama kepadaku. Ayah juga sependapat dengan ibuku. Apapun keinginanku akan selalu diridhai.
Malam itu seperti malam yang panjang bagiku. Mataku tak kunjung terpejam. Banyak fikiran yang bergelayut dalam otakku. Lelaki itu, Fadhli namanya. Aku mulai mengingat-ingat yang mana orangnya karena jujur saja aku masih samar- samar mengenali orangnya. Jika aku tidak salah dia adalah adiknya Bang Hamzah yang merupakan imam mesjid tempat aku biasa mendengarkan ceramah pada bulan ramadhan. Ada dua orang adiknya yang wajahnya mirip dengan sang imam. Tak lama aku dikagetkan oleh adikku semata wayang.
“Hayo....lagi ngelamunin apa itu? Lagi ngelamunin Bang Fadhli ya? cie...cie... yang mau dipinang” goda adikku, Litha.
“Apaan sih dek? Sok tau”
“ Emang tau kok. Kan waktu aBang itu datang tadi ada aku di rumah. Dia malu-malu gitu waktu lihat aku bawain minum untuk dia”
“Masa?”
“Iya. Tau gak kak? Pantesan kemarin waktu aku pergi ke rumah bunda kan berpapasan sama dia, trus dia nanyain kakak loh? Dia tanyai kakak kerja dimana sekarang. Ada pacar atau gak. Pokoknya banyak lah”
“Trus kau jawab apa, dek?” tanyaku penasaran
“Ya aku jawab yang sejujur-jujurnyalah kalau kakak itu kerjanya mengajar trus belum punya pacar dan gak mau punya pacar. Maunya nikah terus dan kriterianya ya kayak aBang gitulah.”
“Apa? Ye...” sontak aku melemparinya bantal.
Keterlaluan. Kalimat terakhir Litha membuatku malu. Seharusnya Litha tak perlu mengatakan soal kriteria.
“ Tapi benarkan yang Litha bilang?” katanya sambil melemparkan bantal ke arahku lagi dan beberapa saat kemudian sudah menjadi perang bantal. Selalu seperti ini jika aku dan Litha berada dalam kamar berdua, mengobrol bersama.
“Tapi dek, jujur kakak masih samar-samar lah. Sebenarnya yang mana sih orangnya? Kayaknya kakak tau tapi betul gak yang itu yang kakak maksud”, tanyaku sambil menghentikan perang bantal kami.
“Ya Allah masa kakak gak tau yang mana orangya?”
Aku hanya menggeleng.
“Kakak inget waktu kakak pulang ngajar PPL itu kakak jatuh dari motor karena hampir nabrak itu? Trus waktu kakak nyampek rumah ada aBang-aBang yang balikin helmnya kakak karena kakak tinggal di tempat kecelakaan itu. Nah itu dia Bang Fadhli. Ganteng kan?”
“Oh...” sambungku sambil mengingat kejadian itu.
Fadhliyansyah.
Ah, dia rupanya. Dalam hati aku tersenyum untuk lelaki berdarah Aceh yang baru-baru ini aku ketahui nama lengkapnya. Lelaki berdarah Aceh itu berkulit kuning langsat dengan dua lesung pipit di kedua pipinya serta jenggot tipis. Cukup tampan. Wajah kearab-araban menambahkan kesan karismatik dalam dirinya.
Meski ia hanyalah seorang anak yatim-piatu korban tsunami 2004 silam, namun ia adalah Sarjana lulusan teknik sipil yang akrab dengan kegiatan yang ada di desa tempatku tinggal. Perawakannya yang ramah dan muda bergaul membuatnya disukai oleh orang-orang sekitarnya. Dia juga selalu aktif dengan kegiatan mesjid.
“Ah..... aBang itu. Ya aku kenal. Sangat kenal malah. Dia adalah lelaki yang juga selama ini aku perhatikan hanya saja aku tak tahu siapa nama lengkapnya dan aku tidak mau mengetahuinya karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku.” Dustaku, “Tapi kan dek...” tanyaku sambil menoleh ke arah adikku yang ternyata sudah tertidur pulas dengan memeluk erat bantal kesayangannya. “Huh dasar....tukang tidur”. Tiba-tiba ponselku berbunyi nada SMS masuk.
Assalamualaikum dek Vonna, maaf mengganggu. Ini Bang Fadhi. Pasti orang tua adek udah bilang ke adek tentang keseriusan aBang. ABang mau adek jadi makmumnya aBang. ABang mau kita ta’arufan. Insyaallah beberapa hari lagi aBang datang ke rumah adek buat dengar jawaban dari adek.

Jantungku berdetak.
Aku mulai bingung, siapa yang kupilih dia kah atau cita-citaku?
Kuputuskan untuk beristikharah. Aku berserah diri kepada Allah SWT agar diberikan keputusan yang benar tentang pilihan tentang masa depanku.
***
Beberapa hari telah berlalu. Istikharah kulakukan setiap malam. Dalam beberapa hari juga aku mengikuti penyeleksian program SM3T. Sampai pada hari keempat aku mendapat kabar bahwa aku lulus semua tahap seleksi dan aku akan ditugaskan di Nusa Tenggara Timur ( NTT). Sepertinya Allah telah meunjukkan jalan kepadaku. Aku memutuskan untuk mengikuti program SM3T saja dan aku mengatakannnya pada orang tuaku.
“Yah, Mak... Vonna udah istikharah dan memustuskan Vonna pilih ikut Program SM3T aja dulu. Vonna bukan menolak ta’arufannya Bang Fadhli tapi Vonna rasa harus menunggu selesai kontrak 2 tahun program ini. Karena persyaratannya program ini, kami tidak boleh menikah dulu selama mengikuti program ini. Vonna gak mungkin nyuruh aBang itu nunggu Vonna 2 tahun lagi. Tapi jika aBang itu bilang mau nunggu Vonna akan menerima pinangannya langsung saat selesai kontrak” kataku serius pada ayah dan mamakku.
Kedua orang tuaku cukup terperangah dengan keputusanku. Mereka tidak menyangka namun tetap setuju. Bagi ayah, aku boleh melakukan apa yang ku mau selama itu baik. “Ayah akan ngomong ke Fadhli tentang keputusanmu” lanjut ayah.
Esok hari Fadhli datang kerumah, sendirian.
Hari itu hari minggu, aku cukup ingat karena minggu aku bebas dari banyak kegiatan.
Ku biarkan ia, Bang Fadhli berbicara dengan ayahku, tidak lama kemudian ayah pun memanggilku bergabung di ruang tamu. Ayah pun mengutarakan apa yang telah menjadi keputusanku pada Bang Fadhli.
“Tidak bisakah kita tunangan dulu kemudian setelah adek pulang mengajar kita langsungkan pernikahan?” tanyanya mewakili ketidakpuasan yang terpancar dari wajah tampannya.
Aku lagi-lagi terdiam.
“Bagaimana Vonna mungkin kamu bisa jelaskan alasanmu padanya” sambung ayah menanggapi pertanyaan lelaki itu.
Aku menarik nafasku dalam sebelum berbicara, “ Maaf Bang, vonna bukan menolak abang karena Vonna gak suka. Tapi Vonna merasa gak akan baik jika kita melangsungkan tunangan dalam waktu yang lama. Jika kita ada jodoh Insyaallah kita akan dipertemukan oleh Allah SWT. Vonna serahkan semua sama abang. Vonna gak mau menggantungkan abang. Jika abang punya jodoh lain abang bisa langsung menikah dengan orang tersebut. Jika tidak insyaallah Vonna akan terima jika waktu tiba.” Jawabku ragu-ragu.
Raut wajah kecewanya semakin terlihat. Aku pun merasa bersalah seketika itu.
Ia melihat diriku, dan Sedetik kemudian pandangan mata kami bertemu. Aku langsung mengalihkan pandangan ke arah lain karena malu. Sepertinya dia masih menatapku lekat-lekat seakan matanya tidak mau lepas memandangku.
“Baiklah kalau begitu.”
Jika bisa, aku ingin menghilang. Ya Allah, ridhailah keputusanku...
*******
Kreeek........suara pintu kamarku yang terbuka membuyarkan lamunan yang mengingatkanku kejadian tahun lalu. Teman sekamarku baru saja pulang dari kampus PPG.
Sekarang aku fokus kuliah Pendidikan Profesi Guru ku saja dulu. Aku berdoa kepada Tuhan agar cepat dipertemukan jodoh. Fadhli dan aku memang belum berjodoh karena sepulang aku dari Nusa Tenggara Timur aku mendapati kabar bahwa ia telah menikah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar