Bangunan tua atau yang lebih mirip dengan sebutan gudang yang bercat putih namun sudah kelihatan seperti warna coklat, banyak atap-atap dan asbes yang sudah lenyap .......
Sekarang disinilah aku memandang dari
kejauhan riuhnya kota terbesar ketiga di Indonesia yaitu Surabaya. Terangnya
cahaya lampu kota memenuhi setiap ruang yang kulihat dari kamar asramaku. Jumat
malam adalah waktu yang paling santai dalam seminggu karena rutinitas membuat
RPP dan Peer Teaching sudah selesai dan akan dilanjutkan pada hari senin. Aku duduk
di meja belajarku yang terletak di sebelah jendela kamar sambil memandangi
layar laptopku dan mendengarkan musik. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan
masuklah 3 orang teman sekamarku yang kebetulan baru pulang rapat kelas karena
kebetulan mereka sama-sama dari prodi Matematika.
“Assalamualaikum kak Ros. Lagi kerjain
tugas Literasi ya?” tanya salah satu teman sekamarku.
Pertanyaan
yang mengingatkanku pada tugas yang harus kukerjakan. “Apa yang harus kutulis
ya?” tanyaku dalam hati. Katanya harus menulis tentang pengalaman selama mengikuti
program SM3T. Jujur, aku bingung. Bingung bukan karena tidak ada yang ingin diceritakan.
Justru aku bingung karena terlalu banyak yang ingin kuceritakan” itulah yang
ada dalam benakku.
Aku mulai mengingat rentetan-rentetan
kejadian selama setahun di daerah rantau yang masih segar dalam ingatanku
sampai sekarang. Peristiwa yang beraneka macam perasaan di dalamnya. Program
Sarjana Pendidikan di Daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal (SM3T) yang
memberikan kesempatan bagi para sarjana muda untuk membagi setiap ilmu yang
telah dipelajari kepada anak negeri di daerah terluar Indonesia. Muncullah
sebuah nama Tanah Lembata.
Lembata-Nusa Tenggara Timur, Itulah yang
tertulis dalam kolom penampatan peserta SM3T Aceh angkatan kedua yang kulihat
di layar laptopku ketika aku membuka situs pengumuman penempatan peserta SM3T.
Nama daerah yang pernah kudengar dulu ketika aku belajar pelajaran IPS ketika
SD, Nusa Tenggara Timur. “Lalu Lembata? Dimanakah itu?”tanyaku dalam hati. Aku
yakin itu pasti nama daerah di bagian Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penasaran
dimana letak Lembata yang ternyata nama sebuah kabupaten, aku membuka buku
atlasku yang paling besar. Kucari dengan seksama namun aku tidak menemukannya.
Aku hanya melihat pulau-pulau kecil di sekelilingnya yang ada cuma nama pulau
Alor, Solor dan Lomblem. Tak hanya berhenti sampai disitu aku mencari informasi
di Google tentang Lemabata. Hilang rasa penasaranku ketika kutemukan informasi
bahwa ternyata Lembata adalah nama sebuah kabupaten baru yang dulunya bernama
Lomblem. Aku mulai mencari banyak informasi hingga tiba waktu keberangkatanku.
Siang itu waktu menunjukkan pukul 11.00
WIB Bandara Sultan Iskandar Muda ramai dipadati oleh manusia-manusia yang
diantaranya adalah kami, para sarjana muda yang akan berangkat menuju daerah
penempatan masing-masing. Riuh suara anak-anak berlarian diantara orang-orang
dewasa yang berkerumun membuat kelompok-kelompok kecil, suara orang-orang
sedang bercakap-cakap, orang yang berlalu lalang yang mungkin sedang mencari
sanak saudara yang akan pergi atau baru tiba tidak sama sekali dapat meredam
perasaan yang tidak keruan yang kurasakan. Tak kalah riuh suara teman-teman sepermainan
dan keluargaku yang mengantar kepergianku ke tempat jauh. Terlihat wajah sedih
mamaku yang berpesan tentang banyak hal padaku sebelum keberangkatanku dan
teman-temanku yang menyemangatiku membuat aku merasa berat untuk meninggalkan
tanah rencongku. Akupun pamit kepada mereka untuk segera berangkat.
Aku dengan 66 orang lainnya dan 2 orang
dosen pendamping barangkat dari Banda Aceh tujuan ke Lembata dengan melalui 2
kali penerbangan Banda Aceh- Jakarta yang mengharuskan kami untuk transit di
Medan kemudian dilanjutkan ke penerbangan Jakarta- Surabaya hingga ke Kupang. Lalu ketika sampai di Kupang.
Ketika turun dari pesawat aku sempat kaget karena panas terik yang luar biasa.
Terasa sekali perbedaan cuaca yang menurutku sangat ekstrim. Saat itu terbayang
dalam benakku ini benar-benar tantangan bagiku. “Jika di ibukota provinsi saja
seperti ini saja kondisinya begini, maka Lembata bisa jadi lebih buruk daripada
ini”. Aku dan teman-teman sempat bermalam di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan
(LPMP) Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kemudian, kami lanjutkan perjalanan ke
Pulau Lembata dengan menggunakan pesawat kecil Trans Nusa dengan 3 kloter
keberangkatan. Tepat pada hari Senin, 24 September 2013 tibalah saya di Kabupaten
Lembata.
Kabupaten Lembata yang terletak di
sebuah pulau yang namanya sama dengan keadaan yang jauh berbeda dengan tanah
rencongku. Terlihat hamparan daratan kuning kecoklatan yang tampak dari pesawat
ketika sedang landing. Tidak ada satu pohon pun yang terlihat rimbun dengan
daunnya. Saat turun dari pesawat “luar biasa” itulah kata-kata yang pertama
kali keluar dari mulutku ketika pertama kali menginjakkkan kaki di Lembata ini.
Ya luar biasa dalam arti yang banyak.
Sesampainya di Lembata aku dan SM3T
lainnya disambut oleh Bupati dalam acara penyambutan yang cukup meriah. Kami
bersyukur ditempatkan di Lembata karena kami difasilitasi orang tua asuh yang
Muslim. Jadi, masyarakat lembata yang muslim bersedia untuk mengangkat kami sebagai
anak asuh. Jadi sambil menunggu sekolah tempat mengajar diberitahukan, aku dan
lainnya tinggal di rumah orang tua asuh masing-masing yang telah ditentukan.
Setengah bulan telah berlalu sejak
kedatanganku ke tanah Lomblem ini, aku mengenal dengan baik keluarga baruku
yang terdiri dari bapa asuh, mama asuh, dan dua ade asuh perempuan yang masing- masing umurnya 10 dan 8 tahun.
Aku banyak diberikan informasi seputar Tanah Lomblem. aku mulai mengenal dan
mempelajari banyak hal tentang Lembata mulai dari cara mereka makan, cara
bicara, dan lain sebagainya. Dua hari setelahnya diumumkan sekolah-sekolah
tempat penempatan. Aku ditempatkan di sebuah kecamatan yang bernama Kecamatan
Ile Ape tepatnya di Desa Laranwutun.
Sesuai dengan namanya Ile Ape yang Ile berarti gunung dan Ape berarti api daerah ini adalah daerah
gunung berapi. Tempat dimana aku akan menghabiskan waktuku setahun untuk
mengajar bibit-bibit negeri. Aku dan 4 orang temanku berada di kecamatan yang
sama, tapi berbeda desa. Aku dan temanku Aminah ditempatkan dalam satu Sekolah
Menengah Atas (SMA)Swasta Ile Ape.
Segera aku dan 4 teman lainnya pergi
untuk melihat sekolah serta tempat tinggal untuk kami tempati selama masa tugas
kami di daerah ini. Perjalanan ke Desa Laranwutun tempatku mengajar nantinya
tidak terlalu jauh dari kota kabupaten, Lewoleba. Hanya membutuhkan waktu
sekitar 30 menit untuk sampai ke sekolah tersebut dengan menggunakan kendaraan
bermotor. Sepanjang perjalanan kami disuguhkan pemadangan yang sangat menarik
untuk dipandang. Sisi kanan dan kiri disepanjang jalan terdapat pohon-pohon
yang tidak berdaun dan batangnya licin, putih bersih, pohon pahlawan adalah
sebutan masyarakat di sini. Kemudian kami melewati daerah tanah garam dan yang
tak kalah menariknya tampaklah sebuah puncak gunung merapi yang puncaknya
berwarna Kuning yang menandakan adanya belerang disana. Sungguh pemandangan
yang luar biasa. Sepanjang perjalanan aku melihat sebuah sekolah SD dan SMP
yang menurutku kondisi bangunannya sama
saja dengan bangunan sekolah di daerah lainnya di Indonesia. Namun, ketika tiba
di sekolah SMA Swasta Ile Ape aku merasa miris melihatnya. Aku hampir tak
percaya bahwa itu adalah sebuah bangunan sekolah. Bangunan tua atau yang lebih
mirip dengan sebutan gudang yang bercat putih namun sudah kelihatan seperti
warna coklat, banyak atap-atap dan asbes yang sudah lenyap dimakan usia, lantai
yang tak berbentuk lantai semen lagi. “Inikah sekolah tempat aku mengajar
nantinya? Kasian anak- anak kalau harus belajar disini. ” ucapku dalam hati.
Jika melihat dari luar tampak seperti bangunan tua mengerikan yang tak mungkin
ada aktivitas apapun di dalamnya kecuali aktivitas makhluk halus atau sejenisnya.
Namun, setelah memasuki tempat tersebut saya bertemu dengan Pak Jack, seorang
guru merangkap petugas tata usaha yang mengenalkan aku dan Aminah teman-teman
guru yang lain serta mengajak kami berkeliling kelas yang hanya terdiri dari 3
kelas yaitu kelas satu kelas untuk kelas X, satu kelas yang disekat untuk kelas
XI IA/ dan XI IS dan satu ruangan lagi yang juga disekat untuk kelas XII IA
dan XII IS. Setelah selesai
melihat-lihat sekolah aku dan Aminah pun langsung mencari tempat tinggal yang
sesuai. Kami pun mengontrak rumah kos yang jaraknya sekitar 500 m dari sekolah.
Kehidupan baru pun dimulai dari sebuah
rumah kos-kosan yang terletak di pinggir jalan lintas antar desa. Sebuah
bangunan rumah yang terdiri dari tiga kamar dan dua kamar mandi terpisah
disamping rumah tersebut. Sebelah kanan terdapat kandang babi milik bapa dan mama desa Laranwutun yang rumahnya tepat di depan rumah kosku yang
berjarak 200 m dan di sebelah kiri seberang ada sebuah rumah warga. Depan dan
belakang rumah terdapat tanah kosong yang akan ditanami jagung dan bayam sesuai
musim menanamnya.
Hari pertamaku masuk ke kelas.
Kebetulan hari ini banyak guru yang
tidak hadir jadi saya ikut membantu mengisi jam pelajaran yang kosong di setiap
kelas. Pertemuan pertama saku isi dengan perkenalan diri. Kami saling
memperkenalkan diri. Susah untuk mengetahui nama-nama anak di kelasku karena
nama-nama mereka masih asing terdengar di telingaku. Kalau ada ungkapan kesan pertama begitu menggoda sepertinya
itulah yang kurasakan saat pertama masuk ke kelas XII IS. “Ya menggoda atau
lebih tepatnya lucu “ tukasku dalam hati. Saat aku berbicara untuk
memperkenalkan diri panjang lebar kepada 11 orang muridku, mereka malah diam
seribu bahasa. Tidak ada respon nakal yang biasanya keluar dari mulut anak SMA
kebanyakan yang pernah kuajar di Aceh.
Aku bertanya-tanya dalam hati “ Kenapa
mereka diam? Apakah bahasaku tidak jelas? Atau
anak-anak disini sopan atau bahkan malu untuk merespon?”
Ternyata setelah kuselidiki mereka merasa lucu dengan logat bahasa
Indonesiaku yang kata mereka mirip dengan bahasanya Ipin dan Upin. Selain itu,
diantara banyak muridku juga ada yang tidak fasih berbahasa Indonesia dengan
baik. Mereka menggunakan bahasa Indonesia dengan struktur bahasa daerah.
Pernah
sekali aku bertanya kepada seorang muridku, “Jam berpa sekarang Ama?”. Lalu ia
menjawab “ lagi seperempat pukul 11 Ibu.”
Aku tidak mengerti dan memintanya
mengulangi kalimatnya hingga beberapa kali hingga aku melihat jam ditangannya
yang menunjukkan pukul 11 kurang 15 menit. Banyak hal-hal lain yang menjadi
kelucuan dan hiburan tersendiri bagiku saat mengajar di sekolah.
Selain di sekolah, di rumah kos kami pun
mengajar beberapa anak yang beragama muslim untuk mengaji. Aku senang dapat
membantu mengajarkan ilmu agama kepada mereka yang masih sekolah di sekolah
dasar. Begitulah kegiatan sehari-hari yang biasa aku dan Aminah lakukan selama
hari senin hingga Jumat karena sabtu dan Minggu kami kembali ke kota untuk
berbelanja kebutuhan sehari-hari. Walaupun kadang-kadang kami hanya belanja
sekali dalam sebulan karena ada pekan di dekat sekolah setiap kamisnya.
Ditambah lagi keadaan sekolah yang tidak
mendukung. Banyak guru yang lebih sering absennya daripada hadirnya. Bahkan
pernah sekali muncul isu bahwa sekolah akan ditutup karena guru demo mengajar
karena telah lama tidak digaji. Namun, anak-anak tetap belajar dan pergi ke
sekolah walaupun yang mengajar hanya guru SM3T dari Aceh dan beberapa guru yang
masih ingin mengajar walaupun belum digaji.
Sungguh luar biasa semangat anak-anak
didikku di daratan kepulauan Flores paling timur ini. Dengan segala keterbatasan
yang ada mereka tetap memperjuangkan hak mereka untuk mendapatkan pendidikan. Semangat
merekalah yang membuatku berat untuk meninggalkan tanah lembata yang begitu
kental dengan adat tradisinya. Perjalanan jauh nan panjang dan melelahkan yang
telah kulalui untuk berada di tempat ini menjadi hal yang sangat kusyukuri.
Berada di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas katholik tidak membuatku
merasa berbeda dan takut untuk bersosialisasi demi mencerdaskan bibit-bibit
bangsaku tercinta.
“Lah, kak ros udah siap
tugas literasi ta? Koq malah facebook-an?” tanya teman sekamarku, Ifa yang mengingatkanku
bahwa sekarang aku sedang melanjutkan perjuangan mendidik anak bangsa dengan
memperkaya ilmuku di PPG. Aku hanya nyengir merespon. “ceplung...” chat
facebookku berbunyi. Kubuka chat dan tertera nama Yulius Ama Loli, muridku di
SMA Ile Ape yang sedang melanjutkan kuliahnya di salah satu universitas swasta
di Malang “Siang Ibu cantik. Apa kabar Ibu?” tersungging senyum lebar di wajahku.
Aku senang mempunyai pengalaman yang sangat berharga di tanah Lembata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar