Total Tayangan Halaman

Minggu, 12 Juli 2015

Bibit- Bibit Negeri di Gudang Tua




 

Bangunan tua atau yang lebih mirip dengan sebutan gudang yang bercat putih namun sudah kelihatan seperti warna coklat, banyak atap-atap dan asbes yang sudah lenyap .......




Kelap-kelip lampu yang mengisyaratkan gemerlapnya suasana kota Surabaya terlihat dari balik jendela kamar lantai 5 Rusunawa Unesa. Disinilah aku melanjutkan ilmu Pendidikan Profesi Guru (PPG) selama setahun setelah tepat 344 hari lamanya aku mengemban tugas yang menurutku sangat mulia yaitu mencerdaskan anak bangsa di pelosok negeri tercinta. Aku sangat bersyukur dengan apa yang aku dapatkan sekarang. Pengalaman berharga yang tak dapat ditukar dengan uang. Itulah sekiranya kesan yang telah kudapatkan.
Sekarang disinilah aku memandang dari kejauhan riuhnya kota terbesar ketiga di Indonesia yaitu Surabaya. Terangnya cahaya lampu kota memenuhi setiap ruang yang kulihat dari kamar asramaku. Jumat malam adalah waktu yang paling santai dalam seminggu karena rutinitas membuat RPP dan Peer Teaching sudah selesai dan akan dilanjutkan pada hari senin. Aku duduk di meja belajarku yang terletak di sebelah jendela kamar sambil memandangi layar laptopku dan mendengarkan musik. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan masuklah 3 orang teman sekamarku yang kebetulan baru pulang rapat kelas karena kebetulan mereka sama-sama dari prodi Matematika.
“Assalamualaikum kak Ros. Lagi kerjain tugas Literasi ya?” tanya salah satu teman            sekamarku.
Pertanyaan yang mengingatkanku pada tugas yang harus kukerjakan. “Apa yang harus kutulis ya?” tanyaku dalam hati. Katanya harus menulis tentang pengalaman selama mengikuti program SM3T. Jujur, aku bingung. Bingung bukan karena tidak ada yang ingin diceritakan. Justru aku bingung karena terlalu banyak yang ingin kuceritakan” itulah yang ada dalam benakku.
Aku mulai mengingat rentetan-rentetan kejadian selama setahun di daerah rantau yang masih segar dalam ingatanku sampai sekarang. Peristiwa yang beraneka macam perasaan di dalamnya. Program Sarjana Pendidikan di Daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal (SM3T) yang memberikan kesempatan bagi para sarjana muda untuk membagi setiap ilmu yang telah dipelajari kepada anak negeri di daerah terluar Indonesia. Muncullah sebuah nama Tanah Lembata.
Lembata-Nusa Tenggara Timur, Itulah yang tertulis dalam kolom penampatan peserta SM3T Aceh angkatan kedua yang kulihat di layar laptopku ketika aku membuka situs pengumuman penempatan peserta SM3T. Nama daerah yang pernah kudengar dulu ketika aku belajar pelajaran IPS ketika SD, Nusa Tenggara Timur. “Lalu Lembata? Dimanakah itu?”tanyaku dalam hati. Aku yakin itu pasti nama daerah di bagian Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penasaran dimana letak Lembata yang ternyata nama sebuah kabupaten, aku membuka buku atlasku yang paling besar. Kucari dengan seksama namun aku tidak menemukannya. Aku hanya melihat pulau-pulau kecil di sekelilingnya yang ada cuma nama pulau Alor, Solor dan Lomblem. Tak hanya berhenti sampai disitu aku mencari informasi di Google tentang Lemabata. Hilang rasa penasaranku ketika kutemukan informasi bahwa ternyata Lembata adalah nama sebuah kabupaten baru yang dulunya bernama Lomblem. Aku mulai mencari banyak informasi hingga tiba waktu keberangkatanku.
Siang itu waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB Bandara Sultan Iskandar Muda ramai dipadati oleh manusia-manusia yang diantaranya adalah kami, para sarjana muda yang akan berangkat menuju daerah penempatan masing-masing. Riuh suara anak-anak berlarian diantara orang-orang dewasa yang berkerumun membuat kelompok-kelompok kecil, suara orang-orang sedang bercakap-cakap, orang yang berlalu lalang yang mungkin sedang mencari sanak saudara yang akan pergi atau baru tiba tidak sama sekali dapat meredam perasaan yang tidak keruan yang kurasakan.  Tak kalah riuh suara teman-teman sepermainan dan keluargaku yang mengantar kepergianku ke tempat jauh. Terlihat wajah sedih mamaku yang berpesan tentang banyak hal padaku sebelum keberangkatanku dan teman-temanku yang menyemangatiku membuat aku merasa berat untuk meninggalkan tanah rencongku. Akupun pamit kepada mereka untuk segera berangkat.
Aku dengan 66 orang lainnya dan 2 orang dosen pendamping barangkat dari Banda Aceh tujuan ke Lembata dengan melalui 2 kali penerbangan Banda Aceh- Jakarta yang mengharuskan kami untuk transit di Medan kemudian dilanjutkan ke penerbangan Jakarta- Surabaya hingga  ke Kupang. Lalu ketika sampai di Kupang. Ketika turun dari pesawat aku sempat kaget karena panas terik yang luar biasa. Terasa sekali perbedaan cuaca yang menurutku sangat ekstrim. Saat itu terbayang dalam benakku ini benar-benar tantangan bagiku. “Jika di ibukota provinsi saja seperti ini saja kondisinya begini, maka Lembata bisa jadi lebih buruk daripada ini”. Aku dan teman-teman sempat bermalam di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kemudian, kami lanjutkan perjalanan ke Pulau Lembata dengan menggunakan pesawat kecil Trans Nusa dengan 3 kloter keberangkatan. Tepat pada hari Senin, 24 September 2013 tibalah saya di Kabupaten Lembata.
Kabupaten Lembata yang terletak di sebuah pulau yang namanya sama dengan keadaan yang jauh berbeda dengan tanah rencongku. Terlihat hamparan daratan kuning kecoklatan yang tampak dari pesawat ketika sedang landing. Tidak ada satu pohon pun yang terlihat rimbun dengan daunnya. Saat turun dari pesawat “luar biasa” itulah kata-kata yang pertama kali keluar dari mulutku ketika pertama kali menginjakkkan kaki di Lembata ini. Ya luar biasa dalam arti yang banyak.
Sesampainya di Lembata aku dan SM3T lainnya disambut oleh Bupati dalam acara penyambutan yang cukup meriah. Kami bersyukur ditempatkan di Lembata karena kami difasilitasi orang tua asuh yang Muslim. Jadi, masyarakat lembata yang muslim bersedia untuk mengangkat kami sebagai anak asuh. Jadi sambil menunggu sekolah tempat mengajar diberitahukan, aku dan lainnya tinggal di rumah orang tua asuh masing-masing yang telah ditentukan.
Setengah bulan telah berlalu sejak kedatanganku ke tanah Lomblem ini, aku mengenal dengan baik keluarga baruku yang terdiri dari bapa asuh, mama asuh, dan dua ade asuh perempuan yang masing- masing umurnya 10 dan 8 tahun. Aku banyak diberikan informasi seputar Tanah Lomblem. aku mulai mengenal dan mempelajari banyak hal tentang Lembata mulai dari cara mereka makan, cara bicara, dan lain sebagainya. Dua hari setelahnya diumumkan sekolah-sekolah tempat penempatan. Aku ditempatkan di sebuah kecamatan yang bernama Kecamatan Ile Ape tepatnya di Desa Laranwutun.
Sesuai dengan namanya Ile Ape yang Ile berarti gunung dan Ape berarti api daerah ini adalah daerah gunung berapi. Tempat dimana aku akan menghabiskan waktuku setahun untuk mengajar bibit-bibit negeri. Aku dan 4 orang temanku berada di kecamatan yang sama, tapi berbeda desa. Aku dan temanku Aminah ditempatkan dalam satu Sekolah Menengah Atas (SMA)Swasta Ile Ape.
Segera aku dan 4 teman lainnya pergi untuk melihat sekolah serta tempat tinggal untuk kami tempati selama masa tugas kami di daerah ini. Perjalanan ke Desa Laranwutun tempatku mengajar nantinya tidak terlalu jauh dari kota kabupaten, Lewoleba. Hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke sekolah tersebut dengan menggunakan kendaraan bermotor. Sepanjang perjalanan kami disuguhkan pemadangan yang sangat menarik untuk dipandang. Sisi kanan dan kiri disepanjang jalan terdapat pohon-pohon yang tidak berdaun dan batangnya licin, putih bersih, pohon pahlawan adalah sebutan masyarakat di sini. Kemudian kami melewati daerah tanah garam dan yang tak kalah menariknya tampaklah sebuah puncak gunung merapi yang puncaknya berwarna Kuning yang menandakan adanya belerang disana. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Sepanjang perjalanan aku melihat sebuah sekolah SD dan SMP yang  menurutku kondisi bangunannya sama saja dengan bangunan sekolah di daerah lainnya di Indonesia. Namun, ketika tiba di sekolah SMA Swasta Ile Ape aku merasa miris melihatnya. Aku hampir tak percaya bahwa itu adalah sebuah bangunan sekolah. Bangunan tua atau yang lebih mirip dengan sebutan gudang yang bercat putih namun sudah kelihatan seperti warna coklat, banyak atap-atap dan asbes yang sudah lenyap dimakan usia, lantai yang tak berbentuk lantai semen lagi. “Inikah sekolah tempat aku mengajar nantinya? Kasian anak- anak kalau harus belajar disini. ” ucapku dalam hati. Jika melihat dari luar tampak seperti bangunan tua mengerikan yang tak mungkin ada aktivitas apapun di dalamnya kecuali aktivitas makhluk halus atau sejenisnya. Namun, setelah memasuki tempat tersebut saya bertemu dengan Pak Jack, seorang guru merangkap petugas tata usaha yang mengenalkan aku dan Aminah teman-teman guru yang lain serta mengajak kami berkeliling kelas yang hanya terdiri dari 3 kelas yaitu kelas satu kelas untuk kelas X, satu kelas yang disekat untuk kelas XI IA/ dan XI IS dan satu ruangan lagi yang juga disekat untuk kelas XII IA dan  XII IS. Setelah selesai melihat-lihat sekolah aku dan Aminah pun langsung mencari tempat tinggal yang sesuai. Kami pun mengontrak rumah kos yang jaraknya sekitar 500 m dari sekolah.
Kehidupan baru pun dimulai dari sebuah rumah kos-kosan yang terletak di pinggir jalan lintas antar desa. Sebuah bangunan rumah yang terdiri dari tiga kamar dan dua kamar mandi terpisah disamping rumah tersebut. Sebelah kanan terdapat kandang babi milik bapa dan mama desa Laranwutun yang rumahnya tepat di depan rumah kosku yang berjarak 200 m dan di sebelah kiri seberang ada sebuah rumah warga. Depan dan belakang rumah terdapat tanah kosong yang akan ditanami jagung dan bayam sesuai musim menanamnya.
Hari pertamaku masuk ke kelas.
Kebetulan hari ini banyak guru yang tidak hadir jadi saya ikut membantu mengisi jam pelajaran yang kosong di setiap kelas. Pertemuan pertama saku isi dengan perkenalan diri. Kami saling memperkenalkan diri. Susah untuk mengetahui nama-nama anak di kelasku karena nama-nama mereka masih asing terdengar di telingaku. Kalau ada ungkapan kesan pertama begitu menggoda sepertinya itulah yang kurasakan saat pertama masuk ke kelas XII IS. “Ya menggoda atau lebih tepatnya lucu “ tukasku dalam hati. Saat aku berbicara untuk memperkenalkan diri panjang lebar kepada 11 orang muridku, mereka malah diam seribu bahasa. Tidak ada respon nakal yang biasanya keluar dari mulut anak SMA kebanyakan yang pernah kuajar di Aceh.
Aku bertanya-tanya dalam hati “ Kenapa mereka diam? Apakah bahasaku tidak jelas?       Atau anak-anak disini sopan atau bahkan malu untuk merespon?”
Ternyata setelah kuselidiki  mereka merasa lucu dengan logat bahasa Indonesiaku yang kata mereka mirip dengan bahasanya Ipin dan Upin. Selain itu, diantara banyak muridku juga ada yang tidak fasih berbahasa Indonesia dengan baik. Mereka menggunakan bahasa Indonesia dengan struktur bahasa daerah.
Pernah sekali aku bertanya kepada seorang muridku, “Jam berpa sekarang Ama?”. Lalu ia menjawab “ lagi seperempat pukul 11 Ibu.”
Aku tidak mengerti dan memintanya mengulangi kalimatnya hingga beberapa kali hingga aku melihat jam ditangannya yang menunjukkan pukul 11 kurang 15 menit. Banyak hal-hal lain yang menjadi kelucuan dan hiburan tersendiri bagiku saat mengajar di sekolah.
Selain di sekolah, di rumah kos kami pun mengajar beberapa anak yang beragama muslim untuk mengaji. Aku senang dapat membantu mengajarkan ilmu agama kepada mereka yang masih sekolah di sekolah dasar. Begitulah kegiatan sehari-hari yang biasa aku dan Aminah lakukan selama hari senin hingga Jumat karena sabtu dan Minggu kami kembali ke kota untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Walaupun kadang-kadang kami hanya belanja sekali dalam sebulan karena ada pekan di dekat sekolah setiap kamisnya.
                 Enam bulan lamanya telah aku jalani kehidupan baruku di rantau. Banyak hal yang kualami di sekolah maupun di rumah kos yang sekarang aku tinggali. Rasa rindu akan kampung halaman tak terelakkan. Namun, tawa canda dari para muridku dapat menghilangkan rasa rindu dan penat yang kurasakan. Aku salut dengan para muridku. Tak peduli bagaimana rupa sekolah yang mereka pakai, seragam yang tidak layak sebagai seragam sekolah anak-anak di kota tidak menyurutkan niat mereka untuk menempa ilmu. Namun, sangat disayangkan selama 6 bulan aku berada di sini aku miris melihat keadaan dimana anak-anak sering tidak masuk sekolah hanya karena harus membantu pesta. Banyak sekali acara pesta yang diadakan di tanah lembata ini mulai dari pesta kematian, pesta sambut baru (pembabtisan anak dalam agama katholik), pesta pernikahan, pesta adat dan tradisi-tradisi lainnya yang mengharuskan anak-anak untuk membantu orang tua atau saudaranya dalam persiapan pesta hingga pesta berakhir. Hasilnya anak tidak masuk sekolah karena kecapaian.
Ditambah lagi keadaan sekolah yang tidak mendukung. Banyak guru yang lebih sering absennya daripada hadirnya. Bahkan pernah sekali muncul isu bahwa sekolah akan ditutup karena guru demo mengajar karena telah lama tidak digaji. Namun, anak-anak tetap belajar dan pergi ke sekolah walaupun yang mengajar hanya guru SM3T dari Aceh dan beberapa guru yang masih ingin mengajar walaupun belum digaji.
Sungguh luar biasa semangat anak-anak didikku di daratan kepulauan Flores paling timur ini. Dengan segala keterbatasan yang ada mereka tetap memperjuangkan hak mereka untuk mendapatkan pendidikan. Semangat merekalah yang membuatku berat untuk meninggalkan tanah lembata yang begitu kental dengan adat tradisinya. Perjalanan jauh nan panjang dan melelahkan yang telah kulalui untuk berada di tempat ini menjadi hal yang sangat kusyukuri. Berada di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas katholik tidak membuatku merasa berbeda dan takut untuk bersosialisasi demi mencerdaskan bibit-bibit bangsaku tercinta.

“Lah, kak ros udah siap tugas literasi ta? Koq malah facebook-an?” tanya teman sekamarku, Ifa yang mengingatkanku bahwa sekarang aku sedang melanjutkan perjuangan mendidik anak bangsa dengan memperkaya ilmuku di PPG. Aku hanya nyengir merespon. “ceplung...” chat facebookku berbunyi. Kubuka chat dan tertera nama Yulius Ama Loli, muridku di SMA Ile Ape yang sedang melanjutkan kuliahnya di salah satu universitas swasta di Malang “Siang Ibu cantik. Apa kabar Ibu?” tersungging senyum lebar di wajahku. Aku senang mempunyai pengalaman yang sangat berharga di tanah Lembata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar