Total Tayangan Halaman

Minggu, 12 Juli 2015

Arti Gading Bagi Lembata


Lembata, salah satu gugusan kepulauan Flores Timur ini merupakan daerah bekas jajahan Hindia Belanda dimana dulu daerah ini dinamakan Lomblem. Sejak 01 Juli 1967 daerah ini sudah menjadi sebuah Kabupaten. Masyarakat Lembata terbagi menjadi dua suku bangsa yaitu suku Kedang dan suku  Lamaholot. Suku lamaholot merupakan suku besar pertama yang berdomisili di daratan timur Pulau Flores.
Orang suku Lamaholot merupakan sebuah suku bangsa yang masih menjunjung tinggi kebudayaan dan tradisinya. Mereka masih melestarikan kebiasaan-kebiasaan adat  dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan-kebiasaan unik ini merupakan daya darik daerah Lomblem. Dengan segala kesederhannaanya Lembata menarik minat para wisatawan untuk mengunjungi. Salah satu kebiasaan unik yang masih sangat dilestarikan yaitu kebiasaan membelis dengan gading gajah.
Gading gajah adalah benda penting bagi warga Lembata. Dalam sebuah pernikahan gading merupakan suatu alat untuk membelis seorang wanita Lembata. Belis berarti penghargaan yang diberikan dari seorang pemuda kepada seorang gadis yang akan dinikahkannya. Dengan kata  lain, gading itu adalah mahar bagi seorang gadis di Lembata.
Gading gajah???? Gading akan menjadi salah satu pertanyaan bagi orang yang sudah menginjakkkan kaki di tanah Lembata. Pasalnya, daerah ini secara geografis merupakan daerah yang kering malah hampir bisa dikatakan tandus. Cuaca panas dan kering dengan curah hujan yang sedikit tidak membuat tanah Lembata subur untuk ditanami pohon-pohon yang hijau. Hanya beberapa pohon yang dapat hidup dan mendominasi. Oleh karena itu, di Lembata tidak ada hutan apalagi hewan yang biasa hidup di hutan termasuk gajah. Namun, mereka mendapatkan gading untuk membelis.
Gading yang digunakan untuk membelis bukan merupakan gading yang dicari di hutan atau di beli dari daerah lain untuk dijadikan belis, melainkan gading yang dimiliki secara turun-temurun dari nenek moyang mereka. Menurut masyarakat setempat, nenek moyang mereka mendapatkan gading pada zaman penjajahan, ketika kerajaan Majapahit masuk wilayah tanah Lomblem ini terjadi transaksi jual beli dan lain-lainnya sehingga gading itu merupakan sebuah harta yang mewah pada zaman itu.

Jadi setiap anak laki-laki akan dibekali sebuah gading untuk nantinya ia dapat membelis seorang wanita saat sudah waktunya menikah. Kemudian para wanita yang  telah di belis , aka gadig tersebut secara langsung akan menjadi milik saudara laki-laki nya atau paman dari keluarga ayahnya  dan begitulah seterusnya. Gading yang digunakan akan dirawat sebaik-baiknya karena gading itu bernilai jual tinggi. Jika dibandingkan dengan kain sarung adat asli, satu buah gading yang panjangnya sekitar 2 meter dengan diameter  15 centimeter itu harganya sama dengan 9 kain sarung tenun yang harga persatuannya adalah puluhan juta rupiah. Oleh karena itu, rakyat Lembata menganggap gading gajah merupakan hal yang sangat penting, sakral dan suci. Mereka menggunakan gading gajah sebagai mahar. Jika seorang gadis dihargai dengan gading gajah maka baiklah derajatnya di mata orang-orang kampungnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar