Lembata, salah satu
gugusan kepulauan Flores Timur ini merupakan daerah bekas jajahan Hindia
Belanda dimana dulu daerah ini dinamakan Lomblem. Sejak 01 Juli 1967 daerah ini
sudah menjadi sebuah Kabupaten. Masyarakat Lembata terbagi menjadi dua suku
bangsa yaitu suku Kedang dan suku Lamaholot. Suku lamaholot merupakan suku besar
pertama yang berdomisili di daratan timur Pulau Flores.
Gading gajah adalah
benda penting bagi warga Lembata. Dalam sebuah pernikahan gading merupakan
suatu alat untuk membelis seorang wanita
Lembata. Belis berarti penghargaan
yang diberikan dari seorang pemuda kepada seorang gadis yang akan
dinikahkannya. Dengan kata lain, gading
itu adalah mahar bagi seorang gadis di Lembata.
Gading
gajah???? Gading akan menjadi salah satu pertanyaan bagi orang yang sudah
menginjakkkan kaki di tanah Lembata. Pasalnya, daerah ini secara geografis
merupakan daerah yang kering malah hampir bisa dikatakan tandus. Cuaca panas
dan kering dengan curah hujan yang sedikit tidak membuat tanah Lembata subur
untuk ditanami pohon-pohon yang hijau. Hanya beberapa pohon yang dapat hidup
dan mendominasi. Oleh karena itu, di Lembata tidak ada hutan apalagi hewan yang
biasa hidup di hutan termasuk gajah. Namun, mereka mendapatkan gading untuk
membelis.
Gading
yang digunakan untuk membelis bukan merupakan gading yang dicari di hutan atau
di beli dari daerah lain untuk dijadikan belis, melainkan gading yang dimiliki
secara turun-temurun dari nenek moyang mereka. Menurut masyarakat setempat,
nenek moyang mereka mendapatkan gading pada zaman penjajahan, ketika kerajaan
Majapahit masuk wilayah tanah Lomblem ini terjadi transaksi jual beli dan
lain-lainnya sehingga gading itu merupakan sebuah harta yang mewah pada zaman
itu.
Jadi
setiap anak laki-laki akan dibekali sebuah gading untuk nantinya ia dapat
membelis seorang wanita saat sudah waktunya menikah. Kemudian para wanita
yang telah di belis , aka gadig tersebut
secara langsung akan menjadi milik saudara laki-laki nya atau paman dari
keluarga ayahnya dan begitulah
seterusnya. Gading yang digunakan akan dirawat sebaik-baiknya karena gading itu
bernilai jual tinggi. Jika dibandingkan dengan kain sarung adat asli, satu buah
gading yang panjangnya sekitar 2 meter dengan diameter 15 centimeter itu harganya sama dengan 9 kain
sarung tenun yang harga persatuannya adalah puluhan juta rupiah. Oleh karena
itu, rakyat Lembata menganggap gading gajah merupakan hal yang sangat penting,
sakral dan suci. Mereka menggunakan gading gajah sebagai mahar. Jika seorang
gadis dihargai dengan gading gajah maka baiklah derajatnya di mata orang-orang
kampungnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar