Total Tayangan Halaman

Jumat, 25 September 2015

Trip ke Lumajang


Lumajang, yeeeeee..... senang bukan main perasaanku ketika Mas Andi, teman PPL PPG ku di SPENTIPAT (baca: SMP N 34 Surabaya) mengajak aku dan teman-teman yang lain untuk jalan-jalan ke Lumajang. Hal yang membuat aku penasaran dan ingin segera ke Lumajang adalah pisangnya. Ya, di Lumajang ada pisang Agung, sebuah jenis pisang yang hanya ada di Lumajang. Pisang ini cukup unik karena bentuknya yang jauh lebih besar daripada pisang-pisang lain yang ada di Indonesia. Pisang jenis ini besarnya bisa mencapai lengan orang dewasa, we ow we kan???
Perjalanan kali ini sangat menyenangkan karena kami mengendarai motor. Selain lebih murah, perjalanan naik motor itu lebih berasa tantangannnya. Segala hal yang mempunyai tantangan ini sangat berguna untuk menyegarkan kembali segala keruwetan alias kesibukan selama PPL di sekolah.
Hari jumat sore tepatnya pukul setengah lima waktu asrama Putra Lidah Wetan, Sepanjang, Surabaya kami berkumpul dan memulai perjalanan yang katanya sekitar 4 sampai 5 jam lamanya dengan mengendarai motor. Aku dan 12 orang temanku yang lain yang terdiri dari 10 orang perempuan termasuk aku dan 3 orang laki-laki mengendarai 7 motor. Kami pergi secara beriringan karena diantara kami tidak ada yang tahu jalan kecuali yang punya rumah, Mas Andi. Lagipula kami harus saling berdekatan agar terhindar dari pembegalan (rampok) di jalan. Begal sekarang sedang marak-maraknya apalagi di daerah yang akan kami lalui yaitu Pasuuan- Probolinggo- Lumajang.
Bismillah....kami pun berangkat melawati jalur sidoarjo, Porong daerah yang terkenal dengan Lumpur Lapindo nya. Walaupun tidak bisa melihat langsung daerah lumpur Lapindo nya karena dibentengi oleh benteng beton yang tinggi ya setidaknya aku pernah melewati daerahnya. Dilanjutkan dengan melintasi jalan pasuruan yang panjang dengan padatnya lalu lintas dengan segala macam truk baik yang single maupun truk double alias truk gandeng.

Ketika tiba waktu maghrib kami singgah di POM bensin untuk mengisi bensin dan mengisi bensin. Kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali hingga di daerah yang sama Pasuruan kami berhenti sejenak untuk meregangkan badan istirahat sambil memakan bekal makanan yang kami bawa dari asrama. Kami makan nasi bungkus beramai-ramai. Ah nikmat rasanya.
Setelah Pasuruan kami tiba di Probolinggo. Setelah melewati kota dan alun-alun Probolinggo kami sampai ke suatu daerah bernama Leces. Awalnya kami mau singgah di daerah tersebut karena teman sekamarku tinggal di sana, namun karena waktu yang sudah menunjukkan pukul 8.30 tidak memungkinkan untuk bertamu jadi kami melanjutkan perjalanan.
Niat hati tidak singgah ke rumah Desty Temen sekamarku agar cepat tiba di rumah Mas Andi eh malah kena macet. Macet parah. Kami terhalang olah ribuan truk pengangkut pasir, buah dan lain-lain hingga hampir 20 KM. Kemacetan parah yang baru kualami seumur hidup. Walaupun begitu untung kami mnegndarai motor, jadi kami dapat menggunakan jalan pintas melewati tingginya badan truk yang berisi muatan yang luar biasa. Hingga akhirnya sampailah kami di Kota Lunmajang. Belum sampai ternyata. Kami harus melewati kota Lumajang sekitar 30 menit lamanya hingga kami tiba di rumahnya Mas Andi di Desa Tempeh, Kecamatan Tempeh Tengah, Lumajang.

Setibanya di rumah Mas Andi pada pukul 11 malam itu kami telah disuguhi “ wong udo” atau “Ote-ote” yaitu cemilan yang di daerahku di kenal dengan sebutan bakwan. Dengan menyeruput segelas teh dan makan ote-ote dapat meredakan rasa lelah. Lalu kami tidur agar dapat lebih menikmati trip di Lumajang yang rencananya kami akan ke Tumpak Sewu. Hai Tumpak Sewu!!!!

Selasa, 01 September 2015

Doa Untuk Negeri dari Kota Pahlawan

.....tujuh belas agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka, nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa indonesia....

Pasti semua tahu kan lirik lagu kebangsaan kita yang satu itu. Ya, setiap tahun pada tanggal 17 kita pasti mendengar lagu tersebut pada acara upacara. Sebagai wujud rasa nasionalisme kita pada negeri kita tercinta ini.

Semua provinsi di Indonesia mempunyai acara- acara unik yang dilakukan untuk  memeriahkan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Acara yang pasti dilakukan yaitu memeriahkan hari kemerdekaan dengan mengadakan pesta rakyat yang diisi dengan berbagai perlombaan seperti  lomba balap karung, lomba balap kelereng, lomba makan kerupuk, lomba tarik tambang hingga yang paling ekstrim yaitu lomba panjat pinang. Keseruan-keseruan yang terjadi ketika lomba merupakan wujud kecintaan masyarakat Indonesia pada bangsa ini.

Perayaan hari kemerdekaan republik Indonesia di Jawa Timur, tepatnya di Surabaya sama meriahnya dengan yang terjadi di daerah-daerah lain di Indonesia. Namun, ada yang tampak berbeda. Hal ini lah yang saya rasakan pada saat malam hari kemerdekaan tepat pada tanggal 16 agustus. Saat saya dengan seorang teman saya jalan-jalan sore naik sepeda (red- motor) hingga malam hari pulang lewat gang-gang kecil diseputaran kampus. Kami susah pulang karena banyak jalan yang ditutup oleh tenda-tenda yang biasa digunakan untuk acara pesta. Awalnya saya mengira bahwa ada yang sedang mengadakan hajatan. Tanpa pikir panjang saya ambil jalan di gang kecil lainnya dan hal yang sama saya dapati beberapa lorong atau gang ditutup akhirnya saya harus memutar ke jalan raya. Usut punya usut ternyata tenda-tenda itu bukan tenda untuk orang yang sedang hajatan melainkan tenda yang dipakai masyarakat tersebut untuk doa bersama. 

“Doa bersama?” Tanyaku pada salah seorang teman yang berdomisili di Jawa Timur. Ya temanku menjelaskan bahwa doa bersama atau Bari’an adalah ritual yang dilakukan sebahagian masyarakat disini untuk mendoakan para pahlawan yang telah gugur. Ia menambahkan kalau di kabupaten lain di Jawa Timur malah lebih meriah karena ada acara makan bersamaatau yang mereka sebut Kenduren  setelah doa bersama. Hal ini bertujuan untuk mempererat kesatuan dan persatuan.

 Acara puncak  keesokan harinya tepat di hari kemerdekaan dengan mengadakan perlombaan. Perlombaan yang dilakukan seharian penuh dan malam puncaknya akan dimeriahkan dengan hiburan dari masyarakat setempat dengan menampilkan tarian daerah dan orkestra.

Saya sebagai pemudi bangsa Indonesia merasa kagum dan bangga serta terharu. Hal ini tidak terjadi di kampung halaman saya yang berada di ujung Pulau Sumatera sana. Masyarakat di kanmpung saya hanya memeriahkan hari kemerdekaan dengan hal-hal yang seru-seru  seperti perlombaan-perlombaan. Ada baiknya jika doa bersama ini dapat dilakukan di setiap daerah di seluruh Indonesia agar seluruh rakyat dapat mendoakan negri kita tercinta ini sehingga dapat lebih baik lagi ke depannya. Amin .

Minggu, 12 Juli 2015

Jodoh Tak Jadi

sebuah cerpen yang sederhana terlahir karena ada tugas yang mengharuskan saya menulis sebuah karangan yang paling mengangetkan, ah....ternyata saya bisa juga buat cerpen



 *******
Can I have your daughter for the rest of my life...
Say yes say yes cause I need to know
You say I never get your blessing till the day I’d died
Tough luck my friend cause the answer is no

Alunan lembut lagu grup band kesayanganku Magic ‘Rude’mengalir dalam pikiranku tiba-tiba saja seolah tidak ada lainnya. Siang hari yang panas bersama tiga temanku lainnya mengisi sepetak kamar di lantai lima sebuah asrama.
Aku hanya duduk di meja kecil berhadap jendela, melipat kedua tangan di atas meja ditemani laptop kesayanganku dan entah bagaimana aku malah terbawa pada masa itu.
Setahun yang lalu.
*******
            Namaku vonna nabilah, hanya seorang guru di sekolah homeschooling. Seorang gadis biasa yang mempunyai cita-cita biasa, menjadi seseorang yang bisa membahagiakan orang tuaku dengan menjadi seorang guru.
            Aku ceria, semangat dan jomblo. Setidaknya itu pendapat teman-temanku.
            Well, tidak mudah untuk menjadi seorang guru yang di akui di negeri ini. Semuanya mempunyai tahap. Aku tidak begitu ingin ambil pusing Ketika teman-teman seangkatanku di kampus berlomba-lomba menikah, aku masih sendirian dan tekun dengan pekerjaanku sebagai guru di Homschooling dan guru private. Hari-harinya dipenuhi dengan jadwal mengajar yang padat. Senin hingga Sabtu mengajar dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore kemudian dilanjutkan dengan mengajar private dari jam 7 hingga jam 10 malam. Minggu aku masih juga sibuk dengan kegiatan tambahan yaitu kegiatan ngumpul-ngumpul dengan teman-teman organisasi Pecinta Alam.           
            Malam itu ketika Aku pulang ngajar tiba-tiba ibuku memanggilku untuk berbincang. Raut wajahnya seakan berbicara bahwa ada hal penting yang akan disampaikannya. “kenapa mak? Kok kayaknya penting kali sih?” tanyaku kepada ibu yang kupanggil ‘mamak’.
“Vonna kenal fadhli kan?”
Dengan heran kujawab “ Ya kenal lah mak, itu kan aBang ganteng yang di belakang mesjid itu kan? He...” sambil cengar-cengir kujawab pertanyaan ibuku.
Tanpa panjang lebar ibuku pun menjelaskan bahwa fadhli datang ke rumah untuk meminangku kepada ayah dan ibuku.
“Apa?” aku cukup terkejut, “Gak salah dengar Vonna mak? ABang itu ngapain?” bagaikan orang tuli aku berbicara dengan nada tinggi pada ibuku.
Ini hampir tidak mungkin. Dadaku seakan mau meledak.
“Mamak juga kaget tiba-tiba dia dan ngomong mau minang kamu” lanjut beliau menjelaskan “Dia bilang mau lamar kamu. Dia udah lama perhatiin kamu. Kalau ayah setuju dia mau bawa orang tuanya untuk minang kamu secepatnya” ia melihatku sejenak kemudian menghela nafasnya “Mamak sih senang-senang aja karena memang sudah waktunya kamu menikah. Mamak sudah kepingin momong cucu”
“Trus ayah bilang apa mak?”
“Ayahmu bilang, ayah belum bisa kasih jawaban sekarang karena ayah menyerahkan keputusan di tangan Vonna. Jadi kayakmana? Coba kamu fikir dulu matang-matang. Kalau mamak lihat dia anak yang baik, rajin shalat, kerjaannya sudah ada, rajin lagi. Mamak dan ayah sih terserah kamu saja”.
 Hening.
Aku tak tahu harus bilang apa. Ini sebuah kejutan yang luar biasa. Di satu sisi aku memang mau menikah dan disisi lain aku baru saja mendapat kabar dari temanku bahwa aku lulus seleksi program Sarjana Mendidik di Daerah terdepan, Terluar, dan tertinggal (SM3T). Program pemerintah yang bertujuan mencerdaskan Indonesia dengan menempatkan para sarjana muda untuk mengajar di daerah plosok Indonesia selama setahun. Program ini adalah keinginanku yang belum kukatakan pada kedua orang tuaku. Aku ingin sekali ikut program ini karena aku dapat menambah wawasanku yang lebih dari sekarang. Pernah sekali aku memberitahu bahwa aku ikut tesnya tapi orang tuaku belum tahu kalau aku lulus. “ Vonna bingung mak. Vonna lulus seleksi tahap pertama program SM3T yang pernah vonna bilang ke mamak. Tapi sejujurnya Vonna juga ingin segera menikah dan punya anak seperti yang mamak inginkan.”
“Kalau begitu coba istikharah saja! Mamak akan merestui apapun yang kamu inginkan.”
Tak lama kemudian ayah pulang dan memberitahukan hal yang sama kepadaku. Ayah juga sependapat dengan ibuku. Apapun keinginanku akan selalu diridhai.
Malam itu seperti malam yang panjang bagiku. Mataku tak kunjung terpejam. Banyak fikiran yang bergelayut dalam otakku. Lelaki itu, Fadhli namanya. Aku mulai mengingat-ingat yang mana orangnya karena jujur saja aku masih samar- samar mengenali orangnya. Jika aku tidak salah dia adalah adiknya Bang Hamzah yang merupakan imam mesjid tempat aku biasa mendengarkan ceramah pada bulan ramadhan. Ada dua orang adiknya yang wajahnya mirip dengan sang imam. Tak lama aku dikagetkan oleh adikku semata wayang.
“Hayo....lagi ngelamunin apa itu? Lagi ngelamunin Bang Fadhli ya? cie...cie... yang mau dipinang” goda adikku, Litha.
“Apaan sih dek? Sok tau”
“ Emang tau kok. Kan waktu aBang itu datang tadi ada aku di rumah. Dia malu-malu gitu waktu lihat aku bawain minum untuk dia”
“Masa?”
“Iya. Tau gak kak? Pantesan kemarin waktu aku pergi ke rumah bunda kan berpapasan sama dia, trus dia nanyain kakak loh? Dia tanyai kakak kerja dimana sekarang. Ada pacar atau gak. Pokoknya banyak lah”
“Trus kau jawab apa, dek?” tanyaku penasaran
“Ya aku jawab yang sejujur-jujurnyalah kalau kakak itu kerjanya mengajar trus belum punya pacar dan gak mau punya pacar. Maunya nikah terus dan kriterianya ya kayak aBang gitulah.”
“Apa? Ye...” sontak aku melemparinya bantal.
Keterlaluan. Kalimat terakhir Litha membuatku malu. Seharusnya Litha tak perlu mengatakan soal kriteria.
“ Tapi benarkan yang Litha bilang?” katanya sambil melemparkan bantal ke arahku lagi dan beberapa saat kemudian sudah menjadi perang bantal. Selalu seperti ini jika aku dan Litha berada dalam kamar berdua, mengobrol bersama.
“Tapi dek, jujur kakak masih samar-samar lah. Sebenarnya yang mana sih orangnya? Kayaknya kakak tau tapi betul gak yang itu yang kakak maksud”, tanyaku sambil menghentikan perang bantal kami.
“Ya Allah masa kakak gak tau yang mana orangya?”
Aku hanya menggeleng.
“Kakak inget waktu kakak pulang ngajar PPL itu kakak jatuh dari motor karena hampir nabrak itu? Trus waktu kakak nyampek rumah ada aBang-aBang yang balikin helmnya kakak karena kakak tinggal di tempat kecelakaan itu. Nah itu dia Bang Fadhli. Ganteng kan?”
“Oh...” sambungku sambil mengingat kejadian itu.
Fadhliyansyah.
Ah, dia rupanya. Dalam hati aku tersenyum untuk lelaki berdarah Aceh yang baru-baru ini aku ketahui nama lengkapnya. Lelaki berdarah Aceh itu berkulit kuning langsat dengan dua lesung pipit di kedua pipinya serta jenggot tipis. Cukup tampan. Wajah kearab-araban menambahkan kesan karismatik dalam dirinya.
Meski ia hanyalah seorang anak yatim-piatu korban tsunami 2004 silam, namun ia adalah Sarjana lulusan teknik sipil yang akrab dengan kegiatan yang ada di desa tempatku tinggal. Perawakannya yang ramah dan muda bergaul membuatnya disukai oleh orang-orang sekitarnya. Dia juga selalu aktif dengan kegiatan mesjid.
“Ah..... aBang itu. Ya aku kenal. Sangat kenal malah. Dia adalah lelaki yang juga selama ini aku perhatikan hanya saja aku tak tahu siapa nama lengkapnya dan aku tidak mau mengetahuinya karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku.” Dustaku, “Tapi kan dek...” tanyaku sambil menoleh ke arah adikku yang ternyata sudah tertidur pulas dengan memeluk erat bantal kesayangannya. “Huh dasar....tukang tidur”. Tiba-tiba ponselku berbunyi nada SMS masuk.
Assalamualaikum dek Vonna, maaf mengganggu. Ini Bang Fadhi. Pasti orang tua adek udah bilang ke adek tentang keseriusan aBang. ABang mau adek jadi makmumnya aBang. ABang mau kita ta’arufan. Insyaallah beberapa hari lagi aBang datang ke rumah adek buat dengar jawaban dari adek.

Jantungku berdetak.
Aku mulai bingung, siapa yang kupilih dia kah atau cita-citaku?
Kuputuskan untuk beristikharah. Aku berserah diri kepada Allah SWT agar diberikan keputusan yang benar tentang pilihan tentang masa depanku.
***
Beberapa hari telah berlalu. Istikharah kulakukan setiap malam. Dalam beberapa hari juga aku mengikuti penyeleksian program SM3T. Sampai pada hari keempat aku mendapat kabar bahwa aku lulus semua tahap seleksi dan aku akan ditugaskan di Nusa Tenggara Timur ( NTT). Sepertinya Allah telah meunjukkan jalan kepadaku. Aku memutuskan untuk mengikuti program SM3T saja dan aku mengatakannnya pada orang tuaku.
“Yah, Mak... Vonna udah istikharah dan memustuskan Vonna pilih ikut Program SM3T aja dulu. Vonna bukan menolak ta’arufannya Bang Fadhli tapi Vonna rasa harus menunggu selesai kontrak 2 tahun program ini. Karena persyaratannya program ini, kami tidak boleh menikah dulu selama mengikuti program ini. Vonna gak mungkin nyuruh aBang itu nunggu Vonna 2 tahun lagi. Tapi jika aBang itu bilang mau nunggu Vonna akan menerima pinangannya langsung saat selesai kontrak” kataku serius pada ayah dan mamakku.
Kedua orang tuaku cukup terperangah dengan keputusanku. Mereka tidak menyangka namun tetap setuju. Bagi ayah, aku boleh melakukan apa yang ku mau selama itu baik. “Ayah akan ngomong ke Fadhli tentang keputusanmu” lanjut ayah.
Esok hari Fadhli datang kerumah, sendirian.
Hari itu hari minggu, aku cukup ingat karena minggu aku bebas dari banyak kegiatan.
Ku biarkan ia, Bang Fadhli berbicara dengan ayahku, tidak lama kemudian ayah pun memanggilku bergabung di ruang tamu. Ayah pun mengutarakan apa yang telah menjadi keputusanku pada Bang Fadhli.
“Tidak bisakah kita tunangan dulu kemudian setelah adek pulang mengajar kita langsungkan pernikahan?” tanyanya mewakili ketidakpuasan yang terpancar dari wajah tampannya.
Aku lagi-lagi terdiam.
“Bagaimana Vonna mungkin kamu bisa jelaskan alasanmu padanya” sambung ayah menanggapi pertanyaan lelaki itu.
Aku menarik nafasku dalam sebelum berbicara, “ Maaf Bang, vonna bukan menolak abang karena Vonna gak suka. Tapi Vonna merasa gak akan baik jika kita melangsungkan tunangan dalam waktu yang lama. Jika kita ada jodoh Insyaallah kita akan dipertemukan oleh Allah SWT. Vonna serahkan semua sama abang. Vonna gak mau menggantungkan abang. Jika abang punya jodoh lain abang bisa langsung menikah dengan orang tersebut. Jika tidak insyaallah Vonna akan terima jika waktu tiba.” Jawabku ragu-ragu.
Raut wajah kecewanya semakin terlihat. Aku pun merasa bersalah seketika itu.
Ia melihat diriku, dan Sedetik kemudian pandangan mata kami bertemu. Aku langsung mengalihkan pandangan ke arah lain karena malu. Sepertinya dia masih menatapku lekat-lekat seakan matanya tidak mau lepas memandangku.
“Baiklah kalau begitu.”
Jika bisa, aku ingin menghilang. Ya Allah, ridhailah keputusanku...
*******
Kreeek........suara pintu kamarku yang terbuka membuyarkan lamunan yang mengingatkanku kejadian tahun lalu. Teman sekamarku baru saja pulang dari kampus PPG.
Sekarang aku fokus kuliah Pendidikan Profesi Guru ku saja dulu. Aku berdoa kepada Tuhan agar cepat dipertemukan jodoh. Fadhli dan aku memang belum berjodoh karena sepulang aku dari Nusa Tenggara Timur aku mendapati kabar bahwa ia telah menikah.


Arti Gading Bagi Lembata


Lembata, salah satu gugusan kepulauan Flores Timur ini merupakan daerah bekas jajahan Hindia Belanda dimana dulu daerah ini dinamakan Lomblem. Sejak 01 Juli 1967 daerah ini sudah menjadi sebuah Kabupaten. Masyarakat Lembata terbagi menjadi dua suku bangsa yaitu suku Kedang dan suku  Lamaholot. Suku lamaholot merupakan suku besar pertama yang berdomisili di daratan timur Pulau Flores.
Orang suku Lamaholot merupakan sebuah suku bangsa yang masih menjunjung tinggi kebudayaan dan tradisinya. Mereka masih melestarikan kebiasaan-kebiasaan adat  dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan-kebiasaan unik ini merupakan daya darik daerah Lomblem. Dengan segala kesederhannaanya Lembata menarik minat para wisatawan untuk mengunjungi. Salah satu kebiasaan unik yang masih sangat dilestarikan yaitu kebiasaan membelis dengan gading gajah.
Gading gajah adalah benda penting bagi warga Lembata. Dalam sebuah pernikahan gading merupakan suatu alat untuk membelis seorang wanita Lembata. Belis berarti penghargaan yang diberikan dari seorang pemuda kepada seorang gadis yang akan dinikahkannya. Dengan kata  lain, gading itu adalah mahar bagi seorang gadis di Lembata.
Gading gajah???? Gading akan menjadi salah satu pertanyaan bagi orang yang sudah menginjakkkan kaki di tanah Lembata. Pasalnya, daerah ini secara geografis merupakan daerah yang kering malah hampir bisa dikatakan tandus. Cuaca panas dan kering dengan curah hujan yang sedikit tidak membuat tanah Lembata subur untuk ditanami pohon-pohon yang hijau. Hanya beberapa pohon yang dapat hidup dan mendominasi. Oleh karena itu, di Lembata tidak ada hutan apalagi hewan yang biasa hidup di hutan termasuk gajah. Namun, mereka mendapatkan gading untuk membelis.
Gading yang digunakan untuk membelis bukan merupakan gading yang dicari di hutan atau di beli dari daerah lain untuk dijadikan belis, melainkan gading yang dimiliki secara turun-temurun dari nenek moyang mereka. Menurut masyarakat setempat, nenek moyang mereka mendapatkan gading pada zaman penjajahan, ketika kerajaan Majapahit masuk wilayah tanah Lomblem ini terjadi transaksi jual beli dan lain-lainnya sehingga gading itu merupakan sebuah harta yang mewah pada zaman itu.

Jadi setiap anak laki-laki akan dibekali sebuah gading untuk nantinya ia dapat membelis seorang wanita saat sudah waktunya menikah. Kemudian para wanita yang  telah di belis , aka gadig tersebut secara langsung akan menjadi milik saudara laki-laki nya atau paman dari keluarga ayahnya  dan begitulah seterusnya. Gading yang digunakan akan dirawat sebaik-baiknya karena gading itu bernilai jual tinggi. Jika dibandingkan dengan kain sarung adat asli, satu buah gading yang panjangnya sekitar 2 meter dengan diameter  15 centimeter itu harganya sama dengan 9 kain sarung tenun yang harga persatuannya adalah puluhan juta rupiah. Oleh karena itu, rakyat Lembata menganggap gading gajah merupakan hal yang sangat penting, sakral dan suci. Mereka menggunakan gading gajah sebagai mahar. Jika seorang gadis dihargai dengan gading gajah maka baiklah derajatnya di mata orang-orang kampungnya. 

Bibit- Bibit Negeri di Gudang Tua




 

Bangunan tua atau yang lebih mirip dengan sebutan gudang yang bercat putih namun sudah kelihatan seperti warna coklat, banyak atap-atap dan asbes yang sudah lenyap .......




Kelap-kelip lampu yang mengisyaratkan gemerlapnya suasana kota Surabaya terlihat dari balik jendela kamar lantai 5 Rusunawa Unesa. Disinilah aku melanjutkan ilmu Pendidikan Profesi Guru (PPG) selama setahun setelah tepat 344 hari lamanya aku mengemban tugas yang menurutku sangat mulia yaitu mencerdaskan anak bangsa di pelosok negeri tercinta. Aku sangat bersyukur dengan apa yang aku dapatkan sekarang. Pengalaman berharga yang tak dapat ditukar dengan uang. Itulah sekiranya kesan yang telah kudapatkan.
Sekarang disinilah aku memandang dari kejauhan riuhnya kota terbesar ketiga di Indonesia yaitu Surabaya. Terangnya cahaya lampu kota memenuhi setiap ruang yang kulihat dari kamar asramaku. Jumat malam adalah waktu yang paling santai dalam seminggu karena rutinitas membuat RPP dan Peer Teaching sudah selesai dan akan dilanjutkan pada hari senin. Aku duduk di meja belajarku yang terletak di sebelah jendela kamar sambil memandangi layar laptopku dan mendengarkan musik. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan masuklah 3 orang teman sekamarku yang kebetulan baru pulang rapat kelas karena kebetulan mereka sama-sama dari prodi Matematika.
“Assalamualaikum kak Ros. Lagi kerjain tugas Literasi ya?” tanya salah satu teman            sekamarku.
Pertanyaan yang mengingatkanku pada tugas yang harus kukerjakan. “Apa yang harus kutulis ya?” tanyaku dalam hati. Katanya harus menulis tentang pengalaman selama mengikuti program SM3T. Jujur, aku bingung. Bingung bukan karena tidak ada yang ingin diceritakan. Justru aku bingung karena terlalu banyak yang ingin kuceritakan” itulah yang ada dalam benakku.
Aku mulai mengingat rentetan-rentetan kejadian selama setahun di daerah rantau yang masih segar dalam ingatanku sampai sekarang. Peristiwa yang beraneka macam perasaan di dalamnya. Program Sarjana Pendidikan di Daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal (SM3T) yang memberikan kesempatan bagi para sarjana muda untuk membagi setiap ilmu yang telah dipelajari kepada anak negeri di daerah terluar Indonesia. Muncullah sebuah nama Tanah Lembata.
Lembata-Nusa Tenggara Timur, Itulah yang tertulis dalam kolom penampatan peserta SM3T Aceh angkatan kedua yang kulihat di layar laptopku ketika aku membuka situs pengumuman penempatan peserta SM3T. Nama daerah yang pernah kudengar dulu ketika aku belajar pelajaran IPS ketika SD, Nusa Tenggara Timur. “Lalu Lembata? Dimanakah itu?”tanyaku dalam hati. Aku yakin itu pasti nama daerah di bagian Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penasaran dimana letak Lembata yang ternyata nama sebuah kabupaten, aku membuka buku atlasku yang paling besar. Kucari dengan seksama namun aku tidak menemukannya. Aku hanya melihat pulau-pulau kecil di sekelilingnya yang ada cuma nama pulau Alor, Solor dan Lomblem. Tak hanya berhenti sampai disitu aku mencari informasi di Google tentang Lemabata. Hilang rasa penasaranku ketika kutemukan informasi bahwa ternyata Lembata adalah nama sebuah kabupaten baru yang dulunya bernama Lomblem. Aku mulai mencari banyak informasi hingga tiba waktu keberangkatanku.
Siang itu waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB Bandara Sultan Iskandar Muda ramai dipadati oleh manusia-manusia yang diantaranya adalah kami, para sarjana muda yang akan berangkat menuju daerah penempatan masing-masing. Riuh suara anak-anak berlarian diantara orang-orang dewasa yang berkerumun membuat kelompok-kelompok kecil, suara orang-orang sedang bercakap-cakap, orang yang berlalu lalang yang mungkin sedang mencari sanak saudara yang akan pergi atau baru tiba tidak sama sekali dapat meredam perasaan yang tidak keruan yang kurasakan.  Tak kalah riuh suara teman-teman sepermainan dan keluargaku yang mengantar kepergianku ke tempat jauh. Terlihat wajah sedih mamaku yang berpesan tentang banyak hal padaku sebelum keberangkatanku dan teman-temanku yang menyemangatiku membuat aku merasa berat untuk meninggalkan tanah rencongku. Akupun pamit kepada mereka untuk segera berangkat.
Aku dengan 66 orang lainnya dan 2 orang dosen pendamping barangkat dari Banda Aceh tujuan ke Lembata dengan melalui 2 kali penerbangan Banda Aceh- Jakarta yang mengharuskan kami untuk transit di Medan kemudian dilanjutkan ke penerbangan Jakarta- Surabaya hingga  ke Kupang. Lalu ketika sampai di Kupang. Ketika turun dari pesawat aku sempat kaget karena panas terik yang luar biasa. Terasa sekali perbedaan cuaca yang menurutku sangat ekstrim. Saat itu terbayang dalam benakku ini benar-benar tantangan bagiku. “Jika di ibukota provinsi saja seperti ini saja kondisinya begini, maka Lembata bisa jadi lebih buruk daripada ini”. Aku dan teman-teman sempat bermalam di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kemudian, kami lanjutkan perjalanan ke Pulau Lembata dengan menggunakan pesawat kecil Trans Nusa dengan 3 kloter keberangkatan. Tepat pada hari Senin, 24 September 2013 tibalah saya di Kabupaten Lembata.
Kabupaten Lembata yang terletak di sebuah pulau yang namanya sama dengan keadaan yang jauh berbeda dengan tanah rencongku. Terlihat hamparan daratan kuning kecoklatan yang tampak dari pesawat ketika sedang landing. Tidak ada satu pohon pun yang terlihat rimbun dengan daunnya. Saat turun dari pesawat “luar biasa” itulah kata-kata yang pertama kali keluar dari mulutku ketika pertama kali menginjakkkan kaki di Lembata ini. Ya luar biasa dalam arti yang banyak.
Sesampainya di Lembata aku dan SM3T lainnya disambut oleh Bupati dalam acara penyambutan yang cukup meriah. Kami bersyukur ditempatkan di Lembata karena kami difasilitasi orang tua asuh yang Muslim. Jadi, masyarakat lembata yang muslim bersedia untuk mengangkat kami sebagai anak asuh. Jadi sambil menunggu sekolah tempat mengajar diberitahukan, aku dan lainnya tinggal di rumah orang tua asuh masing-masing yang telah ditentukan.
Setengah bulan telah berlalu sejak kedatanganku ke tanah Lomblem ini, aku mengenal dengan baik keluarga baruku yang terdiri dari bapa asuh, mama asuh, dan dua ade asuh perempuan yang masing- masing umurnya 10 dan 8 tahun. Aku banyak diberikan informasi seputar Tanah Lomblem. aku mulai mengenal dan mempelajari banyak hal tentang Lembata mulai dari cara mereka makan, cara bicara, dan lain sebagainya. Dua hari setelahnya diumumkan sekolah-sekolah tempat penempatan. Aku ditempatkan di sebuah kecamatan yang bernama Kecamatan Ile Ape tepatnya di Desa Laranwutun.
Sesuai dengan namanya Ile Ape yang Ile berarti gunung dan Ape berarti api daerah ini adalah daerah gunung berapi. Tempat dimana aku akan menghabiskan waktuku setahun untuk mengajar bibit-bibit negeri. Aku dan 4 orang temanku berada di kecamatan yang sama, tapi berbeda desa. Aku dan temanku Aminah ditempatkan dalam satu Sekolah Menengah Atas (SMA)Swasta Ile Ape.
Segera aku dan 4 teman lainnya pergi untuk melihat sekolah serta tempat tinggal untuk kami tempati selama masa tugas kami di daerah ini. Perjalanan ke Desa Laranwutun tempatku mengajar nantinya tidak terlalu jauh dari kota kabupaten, Lewoleba. Hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke sekolah tersebut dengan menggunakan kendaraan bermotor. Sepanjang perjalanan kami disuguhkan pemadangan yang sangat menarik untuk dipandang. Sisi kanan dan kiri disepanjang jalan terdapat pohon-pohon yang tidak berdaun dan batangnya licin, putih bersih, pohon pahlawan adalah sebutan masyarakat di sini. Kemudian kami melewati daerah tanah garam dan yang tak kalah menariknya tampaklah sebuah puncak gunung merapi yang puncaknya berwarna Kuning yang menandakan adanya belerang disana. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Sepanjang perjalanan aku melihat sebuah sekolah SD dan SMP yang  menurutku kondisi bangunannya sama saja dengan bangunan sekolah di daerah lainnya di Indonesia. Namun, ketika tiba di sekolah SMA Swasta Ile Ape aku merasa miris melihatnya. Aku hampir tak percaya bahwa itu adalah sebuah bangunan sekolah. Bangunan tua atau yang lebih mirip dengan sebutan gudang yang bercat putih namun sudah kelihatan seperti warna coklat, banyak atap-atap dan asbes yang sudah lenyap dimakan usia, lantai yang tak berbentuk lantai semen lagi. “Inikah sekolah tempat aku mengajar nantinya? Kasian anak- anak kalau harus belajar disini. ” ucapku dalam hati. Jika melihat dari luar tampak seperti bangunan tua mengerikan yang tak mungkin ada aktivitas apapun di dalamnya kecuali aktivitas makhluk halus atau sejenisnya. Namun, setelah memasuki tempat tersebut saya bertemu dengan Pak Jack, seorang guru merangkap petugas tata usaha yang mengenalkan aku dan Aminah teman-teman guru yang lain serta mengajak kami berkeliling kelas yang hanya terdiri dari 3 kelas yaitu kelas satu kelas untuk kelas X, satu kelas yang disekat untuk kelas XI IA/ dan XI IS dan satu ruangan lagi yang juga disekat untuk kelas XII IA dan  XII IS. Setelah selesai melihat-lihat sekolah aku dan Aminah pun langsung mencari tempat tinggal yang sesuai. Kami pun mengontrak rumah kos yang jaraknya sekitar 500 m dari sekolah.
Kehidupan baru pun dimulai dari sebuah rumah kos-kosan yang terletak di pinggir jalan lintas antar desa. Sebuah bangunan rumah yang terdiri dari tiga kamar dan dua kamar mandi terpisah disamping rumah tersebut. Sebelah kanan terdapat kandang babi milik bapa dan mama desa Laranwutun yang rumahnya tepat di depan rumah kosku yang berjarak 200 m dan di sebelah kiri seberang ada sebuah rumah warga. Depan dan belakang rumah terdapat tanah kosong yang akan ditanami jagung dan bayam sesuai musim menanamnya.
Hari pertamaku masuk ke kelas.
Kebetulan hari ini banyak guru yang tidak hadir jadi saya ikut membantu mengisi jam pelajaran yang kosong di setiap kelas. Pertemuan pertama saku isi dengan perkenalan diri. Kami saling memperkenalkan diri. Susah untuk mengetahui nama-nama anak di kelasku karena nama-nama mereka masih asing terdengar di telingaku. Kalau ada ungkapan kesan pertama begitu menggoda sepertinya itulah yang kurasakan saat pertama masuk ke kelas XII IS. “Ya menggoda atau lebih tepatnya lucu “ tukasku dalam hati. Saat aku berbicara untuk memperkenalkan diri panjang lebar kepada 11 orang muridku, mereka malah diam seribu bahasa. Tidak ada respon nakal yang biasanya keluar dari mulut anak SMA kebanyakan yang pernah kuajar di Aceh.
Aku bertanya-tanya dalam hati “ Kenapa mereka diam? Apakah bahasaku tidak jelas?       Atau anak-anak disini sopan atau bahkan malu untuk merespon?”
Ternyata setelah kuselidiki  mereka merasa lucu dengan logat bahasa Indonesiaku yang kata mereka mirip dengan bahasanya Ipin dan Upin. Selain itu, diantara banyak muridku juga ada yang tidak fasih berbahasa Indonesia dengan baik. Mereka menggunakan bahasa Indonesia dengan struktur bahasa daerah.
Pernah sekali aku bertanya kepada seorang muridku, “Jam berpa sekarang Ama?”. Lalu ia menjawab “ lagi seperempat pukul 11 Ibu.”
Aku tidak mengerti dan memintanya mengulangi kalimatnya hingga beberapa kali hingga aku melihat jam ditangannya yang menunjukkan pukul 11 kurang 15 menit. Banyak hal-hal lain yang menjadi kelucuan dan hiburan tersendiri bagiku saat mengajar di sekolah.
Selain di sekolah, di rumah kos kami pun mengajar beberapa anak yang beragama muslim untuk mengaji. Aku senang dapat membantu mengajarkan ilmu agama kepada mereka yang masih sekolah di sekolah dasar. Begitulah kegiatan sehari-hari yang biasa aku dan Aminah lakukan selama hari senin hingga Jumat karena sabtu dan Minggu kami kembali ke kota untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Walaupun kadang-kadang kami hanya belanja sekali dalam sebulan karena ada pekan di dekat sekolah setiap kamisnya.
                 Enam bulan lamanya telah aku jalani kehidupan baruku di rantau. Banyak hal yang kualami di sekolah maupun di rumah kos yang sekarang aku tinggali. Rasa rindu akan kampung halaman tak terelakkan. Namun, tawa canda dari para muridku dapat menghilangkan rasa rindu dan penat yang kurasakan. Aku salut dengan para muridku. Tak peduli bagaimana rupa sekolah yang mereka pakai, seragam yang tidak layak sebagai seragam sekolah anak-anak di kota tidak menyurutkan niat mereka untuk menempa ilmu. Namun, sangat disayangkan selama 6 bulan aku berada di sini aku miris melihat keadaan dimana anak-anak sering tidak masuk sekolah hanya karena harus membantu pesta. Banyak sekali acara pesta yang diadakan di tanah lembata ini mulai dari pesta kematian, pesta sambut baru (pembabtisan anak dalam agama katholik), pesta pernikahan, pesta adat dan tradisi-tradisi lainnya yang mengharuskan anak-anak untuk membantu orang tua atau saudaranya dalam persiapan pesta hingga pesta berakhir. Hasilnya anak tidak masuk sekolah karena kecapaian.
Ditambah lagi keadaan sekolah yang tidak mendukung. Banyak guru yang lebih sering absennya daripada hadirnya. Bahkan pernah sekali muncul isu bahwa sekolah akan ditutup karena guru demo mengajar karena telah lama tidak digaji. Namun, anak-anak tetap belajar dan pergi ke sekolah walaupun yang mengajar hanya guru SM3T dari Aceh dan beberapa guru yang masih ingin mengajar walaupun belum digaji.
Sungguh luar biasa semangat anak-anak didikku di daratan kepulauan Flores paling timur ini. Dengan segala keterbatasan yang ada mereka tetap memperjuangkan hak mereka untuk mendapatkan pendidikan. Semangat merekalah yang membuatku berat untuk meninggalkan tanah lembata yang begitu kental dengan adat tradisinya. Perjalanan jauh nan panjang dan melelahkan yang telah kulalui untuk berada di tempat ini menjadi hal yang sangat kusyukuri. Berada di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas katholik tidak membuatku merasa berbeda dan takut untuk bersosialisasi demi mencerdaskan bibit-bibit bangsaku tercinta.

“Lah, kak ros udah siap tugas literasi ta? Koq malah facebook-an?” tanya teman sekamarku, Ifa yang mengingatkanku bahwa sekarang aku sedang melanjutkan perjuangan mendidik anak bangsa dengan memperkaya ilmuku di PPG. Aku hanya nyengir merespon. “ceplung...” chat facebookku berbunyi. Kubuka chat dan tertera nama Yulius Ama Loli, muridku di SMA Ile Ape yang sedang melanjutkan kuliahnya di salah satu universitas swasta di Malang “Siang Ibu cantik. Apa kabar Ibu?” tersungging senyum lebar di wajahku. Aku senang mempunyai pengalaman yang sangat berharga di tanah Lembata.

Nasib Nona-Nona Lembata

            Nona adalah sebutan bagi anak gadis di kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).  Dahulunya daratan Lomblem, nama Lembata pada zaman dahulu, merupakan salah satu daerah jajahan Portugis. Letak geografis yang merupakan daerah Kepulauan membuat masyarakat Lembata mempunyai ciri khas  berwatak keras dan berkulit hitam. Walaupun berkulit agak hitam, gadis-gadis Lembata memiliki wajah yang manis rupawan. Dengan hidung mancung, wajah oval, dan memiliki rambut keriting menggoda. Namun, sayang sungguh sayang keberadaan wanita di Lembata tidak begitu diperhatikan oleh para lelakinya.
Lembata merupakan salah satu daerah di daratan ujung Pulau Flores yang memiliki tradisi dan kebudayaan yang unik. Mayoritas masyarakat Lembata yang menganut keyakinan Kristen Katholik masih menjunjung tinggi adat dan istiadat. Dalam adat mereka kedudukan lelaki paling tinggi. Jika di daerah lain la
ki-laki dan perempuan itu memiliki tugas dan kewajiban yang sama atau bahkan laki-laki mempunyai  tugas dan kewajiban yang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Lain halnya dengan masyarakat Lembata, ditempat ini para perempuan harus kuat. Dalam kehidupan sehari-harinya para perempuan baik muda ataupun tua memiliki tugas yang berat seperti pergi ke kebun, menjaga ternak, mengasuh anak, memasak dan lain sebagainya. Apalagi jika mengadakan pesta para perempuan yang paling banyak ambil bagian. Namun, ketika makan para wanita diwajibkan untuk menunggu para pria makan sampai selesai baru boleh makan setelahnya.
Masyarakat Lembata hidup dengan keyakinan bahwa menikah hanya boleh sekali dalam seumur hidup. Dengan kata lain, tidak ada poligami dalam kebudayaan mereka.  Tetapi, Realita yang terjadi di kehidupan masyarakat Lembata sekarang ini memprihatinkan. Hal ini berhubungan dengan adat dan tradisi masrayakatnya. Dalam  suatu pernikahan di Lembata mengharuskan setiap lelaki untuk meminang seorang gadis dengan menyerahkan mahar berupa Gading turun temurun, ditambah dengan hantaran lainnya seperti isi kamar, ternak seperti kambing, babi, atau kuda serta kain tenun adat yang harganya jutaan bahkan puluhan juta rupiah. Hal ini dirasakan sangat memberatkan bagi kaum pria untuk membina hubungan pernikahan. Sehingga, seks bebas merupakan hal yang biasa terjadi dikalangan para remaja di Lembata.
Banyak muda-mudi  yang saling memadu kasih bertahun-tahun lamanya bahkan hingga si nona hamil dan mempunyai anak namun sepasang kekasih ini belum juga menikah karena alasan belum mempunyai cukup dana untuk membelis oleh karena itu si nona hanya dipiara oleh si lelaki. Piara merupakan suatu istilah di masyarakat Lembata yang artinya si wanita dianggap pasangan dan dibawa untuk tinggal bersama lelaki membesarkan anak dengan tidak memiliki status suami istri secara hukum dan agama. Dengan kata lain hal ini sama dengan “kumpul kebo”.
Selain itu, perlakuan para suami dalam hubungan pernikahan terkadang juga tidak menguntungkan bagi para nona Lembata . Banyak juga lelaki mapan yang memiliki banyak harta yang dapat dengan mudahnya menikah dan memberi mahar dengan gading . Namun, perlakuan mereka terhadap istrinya semena-mena. Karena menurut adat mereka ketika seorang nona sudah dibelis, dipinang dengan mebayar mahar berupa gading dan seperangkat hantaran lainnya berarti hidup si nona sudah sepenuhnya milik si lelaki yang menikahinya. Tidak jarang si suami memaki dan melakukan Kekerasan dalam Rumah Tangga( KDRT) dan hal itu dianggap lumrah.  Dalam adat mereka itu merupakan hak suamin dan orang lain tidak berhak ikut campur bahkan kedua orang tua si nona juga tidak berhak. Dimana letak keadilan bagi si nona? si nona tidak diizinkan minta cerai kecuali si suami menghendaki. Jika wanita tersebut diceraikan maka dia tidak berhak mengambil harta apapun yang dimilikinya bahkan si istri harus mengembalikan belis,berupa gading yang telah diberikan. Selain itu secara adat si istri akan dijauhi oleh keluarga baik dari pihaknya maupun dari pihak lelaki.
Itulah yang terjadi di kalangan masyarakat Lembata sekarang ini. Siapa yang dapat disalahkan? Tidak ada yang dapat disalahkan karena itu adalah bagian dari aturan adat tak tertulis yang masih dilestarikan masyarakat Lembata. Namun, seiring berjalannya waktu banyak relawan-relawan yang bergerak dalam bidang pemberdayaan wanita seperti Plan, Biro Pemberdayaan Perempuan (BPP) dan LSM lainnya yang berusaha memerataan gender  .  Mudah-mudahan semakin berkembangnya zaman dapat mengubah pemikiran masyarakat Lembata mengenai keberadaan nona-nona Lembata tanpa mengubah atau mengikis adat dan tradisi yang telah dilestarikan secara turun-temurun.