sebuah cerpen yang sederhana terlahir karena ada tugas yang mengharuskan saya menulis sebuah karangan yang paling mengangetkan, ah....ternyata saya bisa juga buat cerpen
*******
Can
I have your daughter for the rest of my life...
Say
yes say yes cause I need to know
You
say I never get your blessing till the day I’d died
Tough
luck my friend cause the answer is no
Alunan lembut lagu grup band
kesayanganku Magic ‘Rude’mengalir dalam
pikiranku tiba-tiba saja seolah tidak ada lainnya. Siang hari yang panas
bersama tiga temanku lainnya mengisi sepetak kamar di lantai lima sebuah
asrama.
Aku hanya duduk di meja kecil berhadap
jendela, melipat kedua tangan di atas meja ditemani laptop kesayanganku dan
entah bagaimana aku malah terbawa pada masa itu.
Setahun yang lalu.
*******
Namaku vonna nabilah, hanya seorang
guru di sekolah homeschooling. Seorang gadis biasa yang mempunyai cita-cita
biasa, menjadi seseorang yang bisa membahagiakan orang tuaku dengan menjadi
seorang guru.
Aku ceria, semangat dan jomblo.
Setidaknya itu pendapat teman-temanku.
Well, tidak mudah untuk menjadi
seorang guru yang di akui di negeri ini. Semuanya mempunyai tahap. Aku tidak
begitu ingin ambil pusing Ketika teman-teman seangkatanku di kampus
berlomba-lomba menikah, aku masih sendirian dan tekun dengan pekerjaanku
sebagai guru di Homschooling dan guru private. Hari-harinya dipenuhi dengan jadwal
mengajar yang padat. Senin hingga Sabtu mengajar dari jam 8 pagi hingga jam 5
sore kemudian dilanjutkan dengan mengajar private dari jam 7 hingga jam 10
malam. Minggu aku masih juga sibuk dengan kegiatan tambahan yaitu kegiatan
ngumpul-ngumpul dengan teman-teman organisasi Pecinta Alam.
Malam itu ketika Aku pulang ngajar
tiba-tiba ibuku memanggilku untuk berbincang. Raut wajahnya seakan berbicara
bahwa ada hal penting yang akan disampaikannya. “kenapa mak? Kok kayaknya
penting kali sih?” tanyaku kepada ibu yang kupanggil ‘mamak’.
“Vonna kenal fadhli kan?”
Dengan heran kujawab “ Ya kenal lah mak,
itu kan aBang ganteng yang di belakang mesjid itu kan? He...” sambil
cengar-cengir kujawab pertanyaan ibuku.
Tanpa panjang lebar ibuku pun
menjelaskan bahwa fadhli datang ke rumah untuk meminangku kepada ayah dan ibuku.
“Apa?” aku cukup terkejut, “Gak salah
dengar Vonna mak? ABang itu ngapain?” bagaikan orang tuli aku berbicara dengan
nada tinggi pada ibuku.
Ini hampir tidak mungkin. Dadaku seakan
mau meledak.
“Mamak juga kaget tiba-tiba dia dan
ngomong mau minang kamu” lanjut beliau menjelaskan “Dia bilang mau lamar kamu.
Dia udah lama perhatiin kamu. Kalau ayah setuju dia mau bawa orang tuanya untuk
minang kamu secepatnya” ia melihatku sejenak kemudian menghela nafasnya “Mamak sih
senang-senang aja karena memang sudah waktunya kamu menikah. Mamak sudah
kepingin momong cucu”
“Trus ayah bilang apa mak?”
“Ayahmu bilang, ayah belum bisa kasih
jawaban sekarang karena ayah menyerahkan keputusan di tangan Vonna. Jadi
kayakmana? Coba kamu fikir dulu matang-matang. Kalau mamak lihat dia anak yang
baik, rajin shalat, kerjaannya sudah ada, rajin lagi. Mamak dan ayah sih
terserah kamu saja”.
Hening.
Aku tak tahu harus bilang apa. Ini
sebuah kejutan yang luar biasa. Di satu sisi aku memang mau menikah dan disisi
lain aku baru saja mendapat kabar dari temanku bahwa aku lulus seleksi program
Sarjana Mendidik di Daerah terdepan, Terluar, dan tertinggal (SM3T). Program
pemerintah yang bertujuan mencerdaskan Indonesia dengan menempatkan para
sarjana muda untuk mengajar di daerah plosok Indonesia selama setahun. Program
ini adalah keinginanku yang belum kukatakan pada kedua orang tuaku. Aku ingin
sekali ikut program ini karena aku dapat menambah wawasanku yang lebih dari
sekarang. Pernah sekali aku memberitahu bahwa aku ikut tesnya tapi orang tuaku
belum tahu kalau aku lulus. “ Vonna bingung mak. Vonna lulus seleksi tahap
pertama program SM3T yang pernah vonna bilang ke mamak. Tapi sejujurnya Vonna
juga ingin segera menikah dan punya anak seperti yang mamak inginkan.”
“Kalau begitu coba istikharah saja!
Mamak akan merestui apapun yang kamu inginkan.”
Tak lama kemudian ayah pulang dan
memberitahukan hal yang sama kepadaku. Ayah juga sependapat dengan ibuku. Apapun
keinginanku akan selalu diridhai.
Malam itu seperti malam yang panjang
bagiku. Mataku tak kunjung terpejam. Banyak fikiran yang bergelayut dalam
otakku. Lelaki itu, Fadhli namanya. Aku mulai mengingat-ingat yang mana
orangnya karena jujur saja aku masih samar- samar mengenali orangnya. Jika aku
tidak salah dia adalah adiknya Bang Hamzah yang merupakan imam mesjid tempat
aku biasa mendengarkan ceramah pada bulan ramadhan. Ada dua orang adiknya yang
wajahnya mirip dengan sang imam. Tak lama aku dikagetkan oleh adikku semata
wayang.
“Hayo....lagi ngelamunin apa itu? Lagi ngelamunin
Bang Fadhli ya? cie...cie... yang mau dipinang” goda adikku, Litha.
“Apaan sih dek? Sok tau”
“ Emang tau kok. Kan waktu aBang itu
datang tadi ada aku di rumah. Dia malu-malu gitu waktu lihat aku bawain minum
untuk dia”
“Masa?”
“Iya. Tau gak kak? Pantesan kemarin
waktu aku pergi ke rumah bunda kan berpapasan sama dia, trus dia nanyain kakak
loh? Dia tanyai kakak kerja dimana sekarang. Ada pacar atau gak. Pokoknya
banyak lah”
“Trus kau jawab apa, dek?” tanyaku
penasaran
“Ya aku jawab yang sejujur-jujurnyalah
kalau kakak itu kerjanya mengajar trus belum punya pacar dan gak mau punya
pacar. Maunya nikah terus dan kriterianya ya kayak aBang gitulah.”
“Apa? Ye...” sontak aku melemparinya
bantal.
Keterlaluan. Kalimat terakhir Litha membuatku
malu. Seharusnya Litha tak perlu mengatakan soal kriteria.
“ Tapi benarkan yang Litha bilang?”
katanya sambil melemparkan bantal ke arahku lagi dan beberapa saat kemudian
sudah menjadi perang bantal. Selalu seperti ini jika aku dan Litha berada dalam
kamar berdua, mengobrol bersama.
“Tapi dek, jujur kakak masih samar-samar
lah. Sebenarnya yang mana sih orangnya? Kayaknya kakak tau tapi betul gak yang
itu yang kakak maksud”, tanyaku sambil menghentikan perang bantal kami.
“Ya Allah masa kakak gak tau yang mana
orangya?”
Aku hanya menggeleng.
“Kakak inget waktu kakak pulang ngajar
PPL itu kakak jatuh dari motor karena hampir nabrak itu? Trus waktu kakak
nyampek rumah ada aBang-aBang yang balikin helmnya kakak karena kakak tinggal
di tempat kecelakaan itu. Nah itu dia Bang Fadhli. Ganteng kan?”
“Oh...” sambungku sambil mengingat
kejadian itu.
Fadhliyansyah.
Ah, dia rupanya. Dalam hati aku
tersenyum untuk lelaki berdarah Aceh yang baru-baru ini aku ketahui nama
lengkapnya. Lelaki berdarah Aceh itu berkulit kuning langsat dengan dua lesung
pipit di kedua pipinya serta jenggot tipis. Cukup tampan. Wajah kearab-araban
menambahkan kesan karismatik dalam dirinya.
Meski ia hanyalah seorang anak
yatim-piatu korban tsunami 2004 silam, namun ia adalah Sarjana lulusan teknik
sipil yang akrab dengan kegiatan yang ada di desa tempatku tinggal.
Perawakannya yang ramah dan muda bergaul membuatnya disukai oleh orang-orang
sekitarnya. Dia juga selalu aktif dengan kegiatan mesjid.
“Ah..... aBang itu. Ya aku kenal. Sangat
kenal malah. Dia adalah lelaki yang juga selama ini aku perhatikan hanya saja
aku tak tahu siapa nama lengkapnya dan aku tidak mau mengetahuinya karena aku
terlalu sibuk dengan pekerjaanku.” Dustaku, “Tapi kan dek...” tanyaku sambil
menoleh ke arah adikku yang ternyata sudah tertidur pulas dengan memeluk erat
bantal kesayangannya. “Huh dasar....tukang tidur”. Tiba-tiba ponselku berbunyi
nada SMS masuk.
Assalamualaikum
dek Vonna, maaf mengganggu. Ini Bang Fadhi. Pasti orang tua adek udah bilang ke
adek tentang keseriusan aBang. ABang mau adek jadi makmumnya aBang. ABang mau
kita ta’arufan. Insyaallah beberapa hari lagi aBang datang ke rumah adek buat
dengar jawaban dari adek.
Jantungku berdetak.
Aku mulai bingung, siapa yang kupilih
dia kah atau cita-citaku?
Kuputuskan untuk beristikharah. Aku
berserah diri kepada Allah SWT agar diberikan keputusan yang benar tentang
pilihan tentang masa depanku.
***
Beberapa hari telah berlalu. Istikharah
kulakukan setiap malam. Dalam beberapa hari juga aku mengikuti penyeleksian
program SM3T. Sampai pada hari keempat aku mendapat kabar bahwa aku lulus semua
tahap seleksi dan aku akan ditugaskan di Nusa Tenggara Timur ( NTT). Sepertinya
Allah telah meunjukkan jalan kepadaku. Aku memutuskan untuk mengikuti program
SM3T saja dan aku mengatakannnya pada orang tuaku.
“Yah, Mak... Vonna udah istikharah dan
memustuskan Vonna pilih ikut Program SM3T aja dulu. Vonna bukan menolak
ta’arufannya Bang Fadhli tapi Vonna rasa harus menunggu selesai kontrak 2 tahun
program ini. Karena persyaratannya program ini, kami tidak boleh menikah dulu
selama mengikuti program ini. Vonna gak mungkin nyuruh aBang itu nunggu Vonna 2
tahun lagi. Tapi jika aBang itu bilang mau nunggu Vonna akan menerima
pinangannya langsung saat selesai kontrak” kataku serius pada ayah dan mamakku.
Kedua orang tuaku cukup terperangah
dengan keputusanku. Mereka tidak menyangka namun tetap setuju. Bagi ayah, aku
boleh melakukan apa yang ku mau selama itu baik. “Ayah akan ngomong ke Fadhli
tentang keputusanmu” lanjut ayah.
Esok hari Fadhli datang kerumah,
sendirian.
Hari itu hari minggu, aku cukup ingat
karena minggu aku bebas dari banyak kegiatan.
Ku biarkan ia, Bang Fadhli berbicara
dengan ayahku, tidak lama kemudian ayah pun memanggilku bergabung di ruang
tamu. Ayah pun mengutarakan apa yang telah menjadi keputusanku pada Bang
Fadhli.
“Tidak bisakah kita tunangan dulu
kemudian setelah adek pulang mengajar kita langsungkan pernikahan?” tanyanya
mewakili ketidakpuasan yang terpancar dari wajah tampannya.
Aku lagi-lagi terdiam.
“Bagaimana Vonna mungkin kamu bisa
jelaskan alasanmu padanya” sambung ayah menanggapi pertanyaan lelaki itu.
Aku menarik nafasku dalam sebelum
berbicara, “ Maaf Bang, vonna bukan menolak abang karena Vonna gak suka. Tapi Vonna
merasa gak akan baik jika kita melangsungkan tunangan dalam waktu yang lama.
Jika kita ada jodoh Insyaallah kita akan dipertemukan oleh Allah SWT. Vonna
serahkan semua sama abang. Vonna gak mau menggantungkan abang. Jika abang punya
jodoh lain abang bisa langsung menikah dengan orang tersebut. Jika tidak
insyaallah Vonna akan terima jika waktu tiba.” Jawabku ragu-ragu.
Raut wajah kecewanya semakin terlihat.
Aku pun merasa bersalah seketika itu.
Ia melihat diriku, dan Sedetik kemudian
pandangan mata kami bertemu. Aku langsung mengalihkan pandangan ke arah lain
karena malu. Sepertinya dia masih menatapku lekat-lekat seakan matanya tidak
mau lepas memandangku.
“Baiklah kalau begitu.”
Jika bisa, aku ingin menghilang. Ya
Allah, ridhailah keputusanku...
*******
Kreeek........suara
pintu kamarku yang terbuka membuyarkan lamunan yang mengingatkanku kejadian
tahun lalu. Teman sekamarku baru saja pulang dari kampus PPG.
Sekarang
aku fokus kuliah Pendidikan Profesi Guru ku saja dulu. Aku berdoa kepada Tuhan
agar cepat dipertemukan jodoh. Fadhli dan aku memang belum berjodoh karena
sepulang aku dari Nusa Tenggara Timur aku mendapati kabar bahwa ia telah
menikah.