Total Tayangan Halaman

Jumat, 25 September 2015

Trip ke Lumajang


Lumajang, yeeeeee..... senang bukan main perasaanku ketika Mas Andi, teman PPL PPG ku di SPENTIPAT (baca: SMP N 34 Surabaya) mengajak aku dan teman-teman yang lain untuk jalan-jalan ke Lumajang. Hal yang membuat aku penasaran dan ingin segera ke Lumajang adalah pisangnya. Ya, di Lumajang ada pisang Agung, sebuah jenis pisang yang hanya ada di Lumajang. Pisang ini cukup unik karena bentuknya yang jauh lebih besar daripada pisang-pisang lain yang ada di Indonesia. Pisang jenis ini besarnya bisa mencapai lengan orang dewasa, we ow we kan???
Perjalanan kali ini sangat menyenangkan karena kami mengendarai motor. Selain lebih murah, perjalanan naik motor itu lebih berasa tantangannnya. Segala hal yang mempunyai tantangan ini sangat berguna untuk menyegarkan kembali segala keruwetan alias kesibukan selama PPL di sekolah.
Hari jumat sore tepatnya pukul setengah lima waktu asrama Putra Lidah Wetan, Sepanjang, Surabaya kami berkumpul dan memulai perjalanan yang katanya sekitar 4 sampai 5 jam lamanya dengan mengendarai motor. Aku dan 12 orang temanku yang lain yang terdiri dari 10 orang perempuan termasuk aku dan 3 orang laki-laki mengendarai 7 motor. Kami pergi secara beriringan karena diantara kami tidak ada yang tahu jalan kecuali yang punya rumah, Mas Andi. Lagipula kami harus saling berdekatan agar terhindar dari pembegalan (rampok) di jalan. Begal sekarang sedang marak-maraknya apalagi di daerah yang akan kami lalui yaitu Pasuuan- Probolinggo- Lumajang.
Bismillah....kami pun berangkat melawati jalur sidoarjo, Porong daerah yang terkenal dengan Lumpur Lapindo nya. Walaupun tidak bisa melihat langsung daerah lumpur Lapindo nya karena dibentengi oleh benteng beton yang tinggi ya setidaknya aku pernah melewati daerahnya. Dilanjutkan dengan melintasi jalan pasuruan yang panjang dengan padatnya lalu lintas dengan segala macam truk baik yang single maupun truk double alias truk gandeng.

Ketika tiba waktu maghrib kami singgah di POM bensin untuk mengisi bensin dan mengisi bensin. Kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali hingga di daerah yang sama Pasuruan kami berhenti sejenak untuk meregangkan badan istirahat sambil memakan bekal makanan yang kami bawa dari asrama. Kami makan nasi bungkus beramai-ramai. Ah nikmat rasanya.
Setelah Pasuruan kami tiba di Probolinggo. Setelah melewati kota dan alun-alun Probolinggo kami sampai ke suatu daerah bernama Leces. Awalnya kami mau singgah di daerah tersebut karena teman sekamarku tinggal di sana, namun karena waktu yang sudah menunjukkan pukul 8.30 tidak memungkinkan untuk bertamu jadi kami melanjutkan perjalanan.
Niat hati tidak singgah ke rumah Desty Temen sekamarku agar cepat tiba di rumah Mas Andi eh malah kena macet. Macet parah. Kami terhalang olah ribuan truk pengangkut pasir, buah dan lain-lain hingga hampir 20 KM. Kemacetan parah yang baru kualami seumur hidup. Walaupun begitu untung kami mnegndarai motor, jadi kami dapat menggunakan jalan pintas melewati tingginya badan truk yang berisi muatan yang luar biasa. Hingga akhirnya sampailah kami di Kota Lunmajang. Belum sampai ternyata. Kami harus melewati kota Lumajang sekitar 30 menit lamanya hingga kami tiba di rumahnya Mas Andi di Desa Tempeh, Kecamatan Tempeh Tengah, Lumajang.

Setibanya di rumah Mas Andi pada pukul 11 malam itu kami telah disuguhi “ wong udo” atau “Ote-ote” yaitu cemilan yang di daerahku di kenal dengan sebutan bakwan. Dengan menyeruput segelas teh dan makan ote-ote dapat meredakan rasa lelah. Lalu kami tidur agar dapat lebih menikmati trip di Lumajang yang rencananya kami akan ke Tumpak Sewu. Hai Tumpak Sewu!!!!

Selasa, 01 September 2015

Doa Untuk Negeri dari Kota Pahlawan

.....tujuh belas agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka, nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa indonesia....

Pasti semua tahu kan lirik lagu kebangsaan kita yang satu itu. Ya, setiap tahun pada tanggal 17 kita pasti mendengar lagu tersebut pada acara upacara. Sebagai wujud rasa nasionalisme kita pada negeri kita tercinta ini.

Semua provinsi di Indonesia mempunyai acara- acara unik yang dilakukan untuk  memeriahkan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Acara yang pasti dilakukan yaitu memeriahkan hari kemerdekaan dengan mengadakan pesta rakyat yang diisi dengan berbagai perlombaan seperti  lomba balap karung, lomba balap kelereng, lomba makan kerupuk, lomba tarik tambang hingga yang paling ekstrim yaitu lomba panjat pinang. Keseruan-keseruan yang terjadi ketika lomba merupakan wujud kecintaan masyarakat Indonesia pada bangsa ini.

Perayaan hari kemerdekaan republik Indonesia di Jawa Timur, tepatnya di Surabaya sama meriahnya dengan yang terjadi di daerah-daerah lain di Indonesia. Namun, ada yang tampak berbeda. Hal ini lah yang saya rasakan pada saat malam hari kemerdekaan tepat pada tanggal 16 agustus. Saat saya dengan seorang teman saya jalan-jalan sore naik sepeda (red- motor) hingga malam hari pulang lewat gang-gang kecil diseputaran kampus. Kami susah pulang karena banyak jalan yang ditutup oleh tenda-tenda yang biasa digunakan untuk acara pesta. Awalnya saya mengira bahwa ada yang sedang mengadakan hajatan. Tanpa pikir panjang saya ambil jalan di gang kecil lainnya dan hal yang sama saya dapati beberapa lorong atau gang ditutup akhirnya saya harus memutar ke jalan raya. Usut punya usut ternyata tenda-tenda itu bukan tenda untuk orang yang sedang hajatan melainkan tenda yang dipakai masyarakat tersebut untuk doa bersama. 

“Doa bersama?” Tanyaku pada salah seorang teman yang berdomisili di Jawa Timur. Ya temanku menjelaskan bahwa doa bersama atau Bari’an adalah ritual yang dilakukan sebahagian masyarakat disini untuk mendoakan para pahlawan yang telah gugur. Ia menambahkan kalau di kabupaten lain di Jawa Timur malah lebih meriah karena ada acara makan bersamaatau yang mereka sebut Kenduren  setelah doa bersama. Hal ini bertujuan untuk mempererat kesatuan dan persatuan.

 Acara puncak  keesokan harinya tepat di hari kemerdekaan dengan mengadakan perlombaan. Perlombaan yang dilakukan seharian penuh dan malam puncaknya akan dimeriahkan dengan hiburan dari masyarakat setempat dengan menampilkan tarian daerah dan orkestra.

Saya sebagai pemudi bangsa Indonesia merasa kagum dan bangga serta terharu. Hal ini tidak terjadi di kampung halaman saya yang berada di ujung Pulau Sumatera sana. Masyarakat di kanmpung saya hanya memeriahkan hari kemerdekaan dengan hal-hal yang seru-seru  seperti perlombaan-perlombaan. Ada baiknya jika doa bersama ini dapat dilakukan di setiap daerah di seluruh Indonesia agar seluruh rakyat dapat mendoakan negri kita tercinta ini sehingga dapat lebih baik lagi ke depannya. Amin .